MALAM PASKAH (2)

(Bagian ini adalah homili saya, sesudah Injil. Namun tetap ada kaitannya dengan bacaan-bacaan sebelumnya. Silahkan ke Malam Paskah (1) jika belum membacanya sebelumnya.)


Di awal tadi saya mengusulkan "air" sebagai benang merah dari bacaan-bacaan kita pada malam ini. Dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan tidak ada kata "air" sama sekali. Kata "air" menghilang, seperti tubuh Yesus yang menghilang dari kuburan. Mari kita merenungkan lebih jauh kaitan antara air dan Yesus.

Kita tentunya telah berkali-kali mendengar tentang Yesus yang bercakap-cakap dengan wanita Samaria di dekat sumur tentang air lebih tepatnya air hidup. Salah satu hal yang dikatakan oleh Yesus adalah ini:
Barangsiapa minum air ini [air dari sumur maksudnya], ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yoh 4:14).
Di awal kita mendengar air yang sudah ada di awal penciptaan. Siapakah sebenarnya yang bersama dengan Allah di awal penciptaan? Siapakah yang sering dihubungkan dengan Roh Allah atau Roh Kudus? Kemudian Firman Allah diandaikan seperti air. Siapakah yang sering disebut Firman Allah itu? Lantas air itu menghancurkan dan menghidupkan. Siapakah yang bisa menghancurkan dosa dan menghidupkan dari kematian akibat dosa? Kemudian lebih jelas lagi dikatakan bahwa dibaptis dengan air berarti dibaptis dalam Kristus. Akhirnya kita bisa simpulkan bahwa kita diharapkan mengarahkan diri dan hidup kita kepada air kehidupan yang sesungguhnya yaitu Yesus Kristus.

Ketika kita dibaptis, sudah ada jaminan bahwa kita mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus. Meskipun demikian, karena kita masih bersiarah dalam dunia ini dan kita adalah ibarat bejana tanah liat yang rapuh, kita bisa melepas jaminan itu. Bagaimana supaya jaminan itu abadi sifatnya bagi kita? Tuhan sudah memberikan dua sakramen lain yang bisa membantu kita yaitu Sakramen Ekaristi dan Sakramen Pengakuan Dosa. Menerima kedua sakramen ini secara teratur akan mengabadikan jaminan yang kita terima dalam pembaptisan kita.
 
Ibarat satu keahlian, semakin kita melakukannya secara teratur, menerima pengampunan dan Komuni Kudus, kita akan semakin peka, semakin jelas, semakin sensitif, semakin merasakan tentang apa yang menunggu kita yaitu keselamatan, hidup kekal, bangkit bersama Kristus, atau masuk ke dalam surga.

Bapak ibu, saudara saudari yang dikasihi Tuhan, apakah yang bisa kita ingat dari malam paskah tahun 2016 ini? Kata "air". Kemudian kaitkan kata "air" dengan pembaptisan, yang artinya mati dan bangkit bersama Kristus, lantas dua sakramen lainnya yaitu Pengakuan Dosa dan Ekaristi. Amin.

MALAM PASKAH 2016 (1)



(Di awal setiap bacaan, saya memberikan sebuah pengantar kecil yang membantu kita untuk merenungkan dan menghubungkan bacaan-bacaan tersebut.)
Pengantar Bacaan-bacaan
Pada malam ini kita akan mendengarkan beberapa bacaan yang mana kita dapat menarik satu benang merah yang mengaitkan bacaan-bacaan tersebut. Saya mengusulkan kata "air" sebagai benang merah dari bacaan-bacaan yang akan kita dengarkan.
Bacaan pertama yang diambil dari kitab Kejadian yang menceritakan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta. Kita akan mendengarkan "air" yang sudah ada di awal penciptaan bahkan dikatakan "Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air". Dengan demikian kita boleh mengatakan bahwa Allah telah menguduskan air sejak awal mula sebagai bagian dari tanda dan sarana dalam karya keselamatan. Mari kita mendengarkan Sabda Tuhan.
(Kemudian Bacaan dari Kejadian 1:1-2:2)
Bacaan yang akan kita dengarkan berikutnya adalah dari kitab Keluaran yang menceritakan bangsa Israel yang menyeberangi laut. Kita akan mendengar kata "air" beberapa kali disebutkan. Air yang kita dengarkan di sini mempunyai kekuatan menghancurkan. Peristiwa itu mengingatkan kita akan pembaptisan di mana air digunakan. Dalam pembaptisan atau dalam karya penyelamatan, ada hal yang perlu dihancurkan yaitu dosa. Mari kita mendengarkan Sabda Tuhan.
(Kemudian Bacaan dari Keluaran 14:15-15:1)
Tadi kita melihat air itu menghancurkan. Dalam bacaan berikutnya kita akan mendengarkan air sebagai sesuatu yang menghidupkan. Bahkan Firman Tuhan diibaratkan seperti air lebih tepatnya air hujan. Lewat nabi Yesaya, Tuhan mengajak kita untuk datang kepada-Nya menimba air, air kehidupan. Mari kita mendengarkan Sabda Tuhan.
(Kemudian Bacaan dari Yesaya 55:1-11)
Meskipun kita tidak akan mendengarkan kata "air" secara eksplisit, tetapi Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma merangkum dua kekuatan air yang menghancurkan dan menghidupkan ketika dia berbicara tentang dibaptis dalam Kristus. Ketika kita dibaptis tentunya harus ada air. Kita dibaptis berarti kita mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus. Mari kita mendengarkan Sabda Tuhan untuk mengerti lebih jelas apa artinya: ketika kita dibaptis, kita mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus.
(Kemudian Bacaan dari Roma 6:3-11)

Lanjut ke Malam Paskah 2016 (2)

Yang Tersalib untuk Dunia



Kepada saudara-saudariku pengikut Yesus Kristus, apakah kita berani menawarkan Yang Tersalib kepada dunia yang penuh kekerasan, diskriminasi, balas dendam, premanisme, terorisme, pembunuhan massal, dan perang?
Kepada saudara-saudariku yang tidak percaya pada Yesus Kristus, apakah kita berani memberikan kesempatan kepada Yang Tersalib menyentuh dunia kita yang penuh kekerasan, diskriminasi, balas dendam, premanisme, terorisme, pembunuhan massal, dan perang?

Kamis Putih 2016 (2)


Kadang kala kita sakit hati, kecewa bahkan marah ketika orang lain tidak menghargai apa yang kita lakukan, bahkan membalas pelayanan kita dengan kejahatan. Mungkin bapak-ibu, saudara-saudari bergulat seperti saya, kadang bertanya kepada Tuhan seperti saya: mengapa Tuhan orang membalas perbuatan baik saya dengan hal-hal yang buruk? Saya sudah berkorban, tetapi mereka membuat saya sakit hati, kecewa. Atau mungkin kita berkata: saya sudah banyak berdoa, tetapi mengapa saya masih gagal dalam hal ini dan itu, tetapi tidak ada kesembuhan, tidak ada solusi terhadap persoalan hidup saya.
Injil dan peristiwa malam ini menawarkan sesuatu yang patut kita renungkan bersama untuk mengoreksi cara berpikir dan sikap kita.
Kita sakit hati atau kecewa bahkan marah karena kita mengedepankan diri kita, mengutamakan apa yang kita lakukan baik itu terhadap Tuhan maupun terhadap sesama. Mengedepankan Tuhan di sini bukan apa yang kita lakukan buat Tuhan tetapi menerima tawaran Tuhan, menerima apa yang Tuhan berikan.
Kita sakit hati, kecewa, dan marah karena kita melihat perbuatan kita dan sesama itu lebih besar dari pada apa yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Mengapa kita membiarkan kegembiraan dan syukur kita dipadamkan oleh sakit hati, kekecewaan dan kemarahan? Mari kita memikirkan secara serius bahwa apa yang Tuhan telah lakukan kepada kita tidak sebanding dengan apa yang kita lakukan. Jangan sampai sukacita kita atas pembasuhan, penyucian, hidup baru yang diberikan oleh Tuhan redup bahkan padam karena perbuatan sesama yang kurang ajar, kelalaian sesama.
Kita ini adalah orang yang beruntung. Tuhan masih mau memberi kita kesempatan, Tuhan masih mau membersihkan, mengampuni kita, Tuhan masih mau memberikan diriNya untuk kita sambut. Rasa syukur dan sukacita inilah seharusnya melebihi sakit hati dan kekecewaan kita.
Kita melayani sesama karena Tuhan lebih dahulu melayani kita. Dan pelayanan Tuhan melampaui apa yang kita lakukan, termasuk perbuatan sesama yang tidak tahu berterima kasih. Amin.

Kamis Putih 2016 (1)


Pada malam ini kembali kita diingatkan akan logika Injil yaitu: Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:19). Kalimat ini dibahasakan lain dalam bacaan Injil yang baru kita dengarkan demikian: Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu (Yoh 13:14).
Kita semua yang ada di sini sudah dibasuh, dibersihkan oleh Yesus. Pembasuhan, pembersihan atau dengan kata lain penyucian yang ditawarkan oleh Yesus semata-mata adalah rahmat, hadiah dari Yesus dan sekaligus menjadi model bagi kita. Inilah yang menjadi keunikan umat Kristiani. Agama Kristen itu bukanlah sebuah tipe moralisme atau sebuah sistem etika. Agama Kristen tidak berdasarkan pada apa yang kita lakukan atau pada kemampuan moral kita. Tetapi agama Kristen itu pertama-tama adalah anuhgerah atau hadiah: Allah memberikan diriNya sendiri kepada kita, Ia tidak memberikan sesuatu, tetapi diriNya sendiri.
Dan inilah yang terjadi pada malam ini. Yesus memberikan diriNya sendiri untuk membersihkan kita, untuk menyucikan kita. Ia tidak hanya membersihkan atau menyucikan kita di awal pertobatan kita, tetapi Ia melakukannya terus menerus. Ia terus menerus menawarkan diriNya kepada kita. Itulah sebabnya Ekaristi menjadi pusat hidup kita sebagai umat Kristiani. Dalam Ekaristi kita bersyukur karena kita telah dibenarkan, kita bergembira atas hidup baru yang Ia telah berikan kepada kita.
Kita tentunya penuh dengan rasa syukur dan gembira ketika Tuhan sudah membasuh kita, menyucikan kita. Dan lebih dari pada itu, secara natural, kita akan melakukan hal yang sama terhadap orang-orang di sekitar kita terutama kepada mereka yang amat membutuhkan. Jika Tuhan sudah memberikan diriNya kepada kita adalah hal yang wajar jika kita juga memberikan diri kita kepada sesama lewat pelayanan kita.

Saling memaafkan

Apakah kita mampu memaafkan atau saling memaafkan dalam penderitaan, dalam luka batin, dalam kesusahan, dalam kesesakan hidup?
Sesuatu yang sulit, tetapi jika kita hendak mengikuti logika Injil, logika Yesus, maka saling memaafkan adalah sesuatu yang mendesak di dunia sekarang ini yang balas dendam, yang mencari keadilan, yang mencari ganti rugi.
Logika Injil itu ada dalam perkataan Yesus ketika Dia disalibkan:
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
Kita saling memaafkan, saling mengampuni karena Allah Bapa kita lebih dahulu mengampuni kita. Mengampuni orang lain adalah konsekuensi/akibat dan sekaligus syarat dari pengampunan dari Bapa.
Jangan kita menyia-nyiakan apa yang Tuhan kita Yesus Kristus sudah lakukan demi pengampunan dosa-dosa kita. Jangan kita sibuk dengan dosa dan kesalahan orang lain yang mereka lakukan terhadap kita.
Jangan kita membebani diri kita dengan dosa-dosa kita apalagi dengan dosa-dosa orang lain. Tuhan Yesus sudah memikulnya dan menghancurkannya dengan memberikan diriNya sebagai korban pemulih.
Mungkin kita katakan: tapi saya masih sakit hati, masih marah, masih bingung dengan perlakuan mereka terhadap saya. Ingatlah apa yang terjadi pada Yesus, Ia mengampuni manusia, ketika Ia masih menderita, masih kesakitan.
Inilah berita suka cita yang hendak kita wartakan kepada dunia, kepada masyarakat kita, kepada orang-orang di sekitar kita, kepada keluarga kita. Tuhan sudah mengampuni kita, maka dari itu mari kita mengampuni satu sama lain juga.
Amin. Semoga.

Keadilan dan Kerahiman Bapa


Bapa itu pengampun sekaligus adil.
Kerahiman Bapa tidak bertentangan dengan keadilan-Nya.
Bapa itu adil karena Ia akan mengadili manusia. Ia akan menghukum mereka karena dosa-dosa mereka. Tetapi Bapa itu juga pengampun yang artinya Ia akan membebaskan kita dari hukuman yang selayaknya kita terima. Bagaimana Bapa menunjukkan kerahiman-Nya tanpa membatalkan keadilan-Nya? Ia memberikan Putra-Nya yaitu Yesus Kristus sebagai pemulih atas dosa-dosa kita. Yesuslah -lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya - yang menanggung segala hukuman yang seharusnya kita terima.
Dengan demikian Bapa itu sungguh pengampun dan sungguh adil. Amin.

"Hanya" Menjadi Ibu Rumah Tangga?


Pengantar: sudah lama saya ingin menulis tentang para ibu yang tinggal di rumah menghidupi, merawat dan mengasuh keluarganya. Kita perlu berpikir bahwa para ibu yang "hanya" menjadi ibu rumah tangga sungguh panggilan yang mulia dan perlu dipertimbangkan. Mari kita membaca pengalaman dari Ibu Lia Krisna (Batam) satu dari banyak ibu yang memutuskan untuk "hanya" menjadi ibu rumah tangga.

Melalui pernikahan kudus..aku telah dihantar menjadi seorang ibu. Namun wanita jaman sekarang dihadapkan pada pilihan...apakah "hanya" menjadi ibu rumah tangga atau juga sebagai wanita karier atau wanita pekerja? Awalnya memang aku mempunyai cita2 bahwa aku ingin mengurus anak2ku sendiri dengan segenap kekuatanku...tidak kuserahkan pada pengasuh atau di tempat penitipan. Tetapi ketika aku menyadari bahwa aku hidup di Batam... dimana biaya hidup sangat tinggi...aku ragu2. Tuhan, apakah kami bisa hidup kalau hanya suamiku yang bekerja? Hadirnya seorang anak tentunya kebutuhan hidup akan meningkat.

Namun saat itu, akhirnya aku pun memutuskan bahwa aku akan tetap mengasuh anak2ku dengan tanganku sendiri dengan berbagai macam pertimbangan. Bila dihitung biaya yg dikeluarkan antara aku bekerja dan tidak bekerja...pertimbangan gaji yg aku terima saat itu...pertimbangan gaji pembantu atau baby sitter, pertimbangan jumlah kebutuhan hidup jika kami memiliki pembantu seperti kebutuhan makan misalnya, nampaknya sangat tidak sebanding dengan kehilangan waktu untuk melihat "keajaiban2" yang akan dibuat anakku. Kapan mereka pertama kali akan bisa tengkurap sendiri, kapan mereka pertama kali bisa duduk sendiri, kapan pertama kali mereka bisa berdiri dengan kakinya sendiri, kapan pertama kali dia akan memanggilku 'mami', kapan pertama kali anakku bisa berjalan, kapan pertama kali... aku ingin menjadi saksi dari semua itu, dan ketika anakku bertanya suatu saat nanti aku akan dapat menceritakan semua hal ajaib itu sebagai pengalamanku...bukan "kata pembantuku" atau "kata orang di tempat penitipan".

Banyak yg menyayangkan keputusanku untuk tidak menjadi wanita karier...krn mereka melihat aku sebagai wanita yg aktif, suka berkegiatan, suka bergaul, pendidikan S1 dan orang tuaku dengan peluh dan keringat bekerja keras untuk membiayai sekolahku. Ada juga yg beranggapan bahwa profesi sebagai ibu rumah tangga itu sama sekali tidak bergengsi..kok seperti suami ga bisa membayar pembantu aja sampai2 kita sendiri mengurus anak dan rumah tangga.

Ada yang beranggapan bahwa aku sudah sangat mapan dengan "keuangan" suamiku sehingga aku bisa leha2 nyantai di rumah menikmati kerja keras suamiku..."Kamu sih enak Lia ga perlu kerja tp suamimu sudah bisa mencukupi semua kebutuhanmu"...hohohohoho... itu salah besar. aku tidak perlu menceritakan bagaimana kondisi keuangan kami, tapi 1 hal bahwa kebutuhan dan keinginan itu beda tipis aja..berapapun uang kita, jika kita tidak bisa mengerem keinginan kita, tidak akan pernah ada kata 'cukup'. Ini pendapat pribadiku. Tapi bukan berarti juga bahwa aku sangat pandai mengatur keuangan keluarga, krn kenyataannya mmg harus mengikat pinggang kencang supaya semua dapat berjalan baik.

Menjadi wanita karier bukan hal yg buruk atau hal yg kurang baik...karena masing2 pribadi berhak menentukan pilihan dan prioritas dalam hidupnya. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda sehingga alasan yang sama tidak serta merta dapat diterapkan bagi orang lain.Menjadi wanita bekerja itu juga sangat sibuk, selain bekerja di luar, diapun juga harus bekerja di rumah. Akan sangat repot lagi kalau tidak punya asisten rumah tangga, dan anak harus dititipkan, setelah pulang bekerja lalu bekerja di rumah.  Apa aku tidak ingin bekerja????? Ooooh sangat ingin. Aku ingin sekali bisa memanfaatkan ilmu yg sudah aku pelajari bertahun2, aku ingin sekali bertemu dengan banyak orang, aku ingin bisa berpenghasilan sendiri, aku ingin bisa berkata "ini uang dari keringatku sendiri", aku ingin bisa keluar rumah setiap hari dan bertemu dengan orang2 di luar sana, aku ingin anakku bangga memiliki ibu yang kariernya bagus. Menjadi "hanya" ibu rumah tangga itu membosankan, kegiatannya itu2 saja, keluar juga ke pasar, supermarket, ke mall. Orang2 yg dijumpai juga itu2 saja. Bangun paling pagi dan tidur larut. Menjaga anak2 juga seperti memendam luapan emosi setiap saat, menelan ludah dan menghela nafas panjang, mengontrol tangan dan juga mulut supaya tidak ikut emosi, kadang juga menangis sendiri karena ketidak berdayaanku, jengkel pd diri sendiri ketika kita tidak bisa menahan amarah.

Namun..semua pilihan itu ada konsekuensinya.Dan untuk saat ini, "hanya" menjadi ibu rumah tanngga menjadi pilihanku. Mengawasi anak2 setiap hari, mendengar canda, tawa, dan tangis mereka setiap saat, bermain bersama mereka, membantu anak mengerjakan PR, menjadi orang pertama yg melihat segala kemajuan mereka, menjadi nama yang paling sering mereka sebut, menjadi orang yang paling mereka cari, menjadi orang yg akan menyambut mereka ketika pulang sekolah, menjadi orang yang paling sering mereka peluk dan cium, menjadi orang yang dapat mereka andalkan,... itu luar biasa. Ada yg berpendapat "kalau kamu merawat anak2 sendiri, anak2mu tidak akan mandiri, dan mereka akan terus lengket sama kamu, susah bergaul, susah beradaptasi dengan orang baru".... Apakah benar seperti itu? Menurutku semua itu kembali lagi pada pola pendidikan kita sebagai orang tua, pembawaan pribadi anak itu sendiri dan juga lingkungan pergaulannya. Karena aku pun juga anak perempuan satu2nya dan aku diasuh sendiri oleh mamiku... dan kukira aku bukan pribadi yg seperti itu. Anak2ku masih kecil dan mereka tidak akan pernah kecil lagi. Sebentar lagi mereka tumbuh besar dan akan sibuk dengan dunianya, teman2nya, sekolahnya sepanjang hari, tugas2nya, belum lagi nanti mereka sekolah di luar kota. Aku ingin menikmati saat2 indah ini, dimana mereka bisa kupeluk setiap saat, kucium, kugendong, kubacakan cerita, dan hal2 indah lainnya.

Menjadi ibu rumah tangga itu ... mau terpaksa atau merasa terpanggil..tergantung dari sudut pandang kita saja..dan bagaimana kita menjalankan tugas2 kita (menurutku). Suatu saat pun aku ingin bisa lebih berguna ketika anak2 sudah lebih mandiri. Walau bukan menjadi wanita kantoran... pasti akan ada masanya aku juga bisa berkarier.

Tidak ke gereja pada hari Minggu: dosa berat.


Tanpa alasan berat, tidak ke gereja pada hari Minggu adalah dosa berat. Sekiranya kita tidak ke gereja karena malas, tidak ada mood, lebih suka melakukan kegiatan yang lebih menyenangkan, etc, kita telah melakukan dosa berat. Jika kita mengingat apa yang kita renungkan dalam tulisan sebelumnya bahwa hanya butuh satu dosa berat untuk masuk neraka, berarti satu kali tidak ke gereja pada hari Minggu, sejauh itu adalah dosa berat, kita sudah berjalan ke neraka. Kita mungkin akan protes: apakah Tuhan yang maha pengampun sampai hati membiarkan kita berjalan masuk neraka hanya karena satu kali tidak ke gereja pada hari Minggu?
Satu kali tidak pergi ke gereja pada hari Minggu mungkin saja berkaitan dengan dosa lainnya, seperti malas. Dosa berat karena tidak pergi ke gereja pada hari Minggu mungkin saja sudah menjadi kebiasaan. Orang yang rajin ke gereja pada hari Minggu dan pada hari raya wajib lainnya, jika dia tidak pergi satu kali kemungkinan besar karena terpaksa sekali misalnya sakit. Dan dia tidak melakukan dosa berat karena ada alasan yang berat yang membuatnya tidak bisa pergi ke gereja.
Kita tidak bisa menyembunyikan diri di balik pertanyaan ini: apakah Tuhan yang maha pengampun sampai hati membiarkan kita berjalan masuk neraka hanya karena satu kali tidak ke gereja pada hari Minggu? Kita perlu memeriksa diri mengapa kita tidak ke gereja. Apakah memang baru satu kali? Apakah memang hanya dosa berat - tidak pergi ke gereja tanpa alasan berat - itu saja yang kita lakukan? Mungkin ada dosa lain yang berhubungan dengan itu. Terlebih lagi, ini yang patut kita ingat, satu dosa membuka peluang untuk melakukan dosa yang lain. Jika kita tidak ke gereja pada hari Minggu karena malas misalnya, kita patut ingat bahwa kita berada dalam keadaan dosa berat, sehingga pada hari Minggu berikutnya, jangan kita pergi komuni sebelum mengaku dosa karena kita akan jatuh dalam dosa sakrilegi.
Mungkin kita protes lagi: jika saya tidak menerima komuni, untuk apa saya pergi ke gereja pada hari Minggu? Saat kita mulai protes demikian, dosa kesombongan dan kemarahan sudah mulai nampak di ambang pintu. Komuni bukanlah hak kita. Kita pergi ke gereja pada hari Minggu untuk memenuhi kewajiban kita: menguduskan hari Tuhan, menyembah Tuhan, bersyukur kepada-Nya. Dan mengapa tidak, datanglah lebih awal supaya bisa bertemu dengan seorang imam untuk mengaku dosa. Dengan demikian selain kita menerima pengampunan juga Tubuh Kristus yang kedua-duanya menguatkan kita dalam perjalanan kita ke surga.
Gereja tidak membebani kita dengan banyak peraturan. Justru karena Gereja mencintai kita, menginginkan kita sampai di surga, maka Gereja menunjukkan kepada kita rambu-rambu yang patut kita perhatikan selama perjalanan kita ke surga supaya kita aman dan selamat.

Masuk neraka hanya karena satu dosa berat!


Masuk neraka hanya karena satu dosa berat!
Mungkin kita meragukan kebenaran pernyataan ini: hanya karena melakukan satu dosa berat, seseorang masuk neraka. Mengerihkan. Itu yang kita rasakan. Lantas kita mulai bertanya: Apakah karena satu dosa berat, Tuhan yang maharahim sampai hati membiarkan seseorang masuk neraka?
Jika kita memikirkannya baik-baik, pernyataan itu benar. Karena, pertama, satu dosa berat sebenarnya berkaitan dengan dosa berat yang lainnya. Kedua, orang tidak pernah melakukan satu dosa berat hanya satu kali, tetapi beberapa kali bahkan menjadi kebiasaan.
Jangan kita melihat pernyataan itu sesuatu yang menakut-nakuti, tetapi sesuatu yang mengingatkan kita untuk selalu bertobat, untuk selalu datang mengakukan dosa kita dan menerima Sakramen Pengampunan dari Tuhan. Adalah benar bahwa Tuhan yang maharahim tidak sampai hati kita masuk neraka. Maka dari itu Bapa kita di surga lewat Yesus Kristus telah memberikan Sakramen Tobat kepada Gereja supaya kita senantiasa menerima pengampunan dari pada-Nya, supaya kita boleh meninggal dalam keadaan berahmat atau sekurang-kurangnya tanpa dosa berat.
Jika kita memang telah melakukan hanya satu dosa berat dan hanya satu kali, Gereja meminta kita untuk pergi secepat mungkin mengakukan dosa kita. Jangan membiarkan Setan meyakinkan kita: apakah Tuhan yang maharahim sampai hati membiarkan kita masuk neraka hanya karena satu dosa berat? Jangan kita menipu diri. Satu dosa berat adalah awal dari kebiasaan berbuat dosa dan membawa kita kepada dosa-dosa yang lain.
Catatan: Ada tiga syarat yang membuat satu perbuatan menjadi dosa berat. Pertama: perbuatan itu adalah berat. Kedua: tahu bahwa perbuatan itu adalah dosa. Ketiga: perbuatan itu disertai keinginan untuk melakukannya. Contohnya: mencuri menjadi dosa berat jika ketiga syarat dipenuhi. Tetapi jika mencuri karena dipaksa oleh orang lain, tentunya menjadi dosa ringan. Bahkan mereka yang menderita penyakit kleptomania, tentunya perbuatannya tidak bisa dianggap dosa karena apa yang dilakukannya diluar tanggungjawabnya.

Yesus bangkit secara badaniah!


Yesus Bangkit
Karena waktu masih banyak sebelum berangkat ke paroki Santissima Trinita dei Pellegrini (FSSP) di Roma untuk mengikuti Vigil Paskah dalam forma ekstraordinaria, saya menulis sedikit permenungan seputar kebangkitan Yesus.
Dari kecil sampai sekarang, setiap kali mendengar Injil tentang kebangkitan Yesus, saya mengertinya seperti yang tertulis (literal). Saya percaya bahwa Ia bangkit. Saya telah banyak mendengar dan membaca penjelasan, pertanyaan, keberatan dan perdebatan yang mengatakan sebaliknya. Ada banyak orang yang berkeliling ke sana ke mari baik yang beragama maupun yang tidak percaya akan Tuhan mengatakan bahwa kebangkitan Yesus itu adalah omong kosong, mustahil, dogeng, kekanak-kanakan.
Apakah orang dewasa seperti saya masih percaya bahwa Yesus bangkit secara badaniah? Ya.
Tentunya kita tahu benar cerita tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin di Injil Lukas (16,19-31). Di bagian terakhir dari cerita tertulis demikian: “... mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16,31). Kita harus ingat bahwa cerita ini menyangkut keselamatan dan siksaan kekal yang menunggu setiap orang setelah kematian. Banyak nabi telah mengumandangkan tentang adanya neraka dan surga yang menunggu manusia.
Demi keselamatan kita, apakah kita hendak menolak seseorang yang telah bangkit dari kematian bahkan yang sudah turun ke neraka? Yesus menderita, mati, dan bangkit demi keselamatan kita. Jika kita menolak bahwa Yesus sungguh bangkit secara badaniah, kita sudah mencelakakan diri sendiri, kita sudah menentukan pilihan kita.
Rasul Yohanes, demikian juga penginjil lainnya, menulis tentang Yesus supaya kita percaya dan beroleh hidup dalam nama-Nya (bdk. Yoh 20,30-31).
Kebangkitan Yesus adalah alasan untuk merindukan surga. Jika Dia tidak bangkit, maka sia-sialah iman kita (bdk 1 Kor 15,14).
Amin.

Mengaku dosa langsung kepada Tuhan? Menipu diri sendiri.


Mengaku dosa langsung kepada Tuhan?
Menipu diri sendiri.
Saya semakin mencintai Sakramen Pengakuan Dosa yang juga disebut Sakramen Tobat, Pengampunan, atau Rekonsiliasi. Sebagai orang yang sering jatuh dalam dosa, sebenarnya perasaan malu adalah alasan utama mengapa saya tidak pergi mengakukan dosa-dosa saya kepada seorang imam, dan akhirnya mengatakan pada diri sendiri bahwa saya mengaku dosa saja langsung kepada Tuhan. Padahal jika kita malu pergi mengakukan dosa kita kepada seorang imam, justru itu bisa menjadi alasan yang baik untuk pergi mengaku dosa. Secara tidak langsung kita mengakui bahwa kita malu akan dosa-dosa kita. Dari pada berusaha membenarkan perasaan malu dengan mengatakan bahwa kita bisa mengaku dosa langsung kepada Tuhan, lebih baik dan lebih berguna kita melawan perasaan malu ini dengan merenungkan bahwa kita menipu diri sendiri dengan mengatakan: “Saya mengaku dosa langsung saja kepada Tuhan.”
Saya kuatir kita hanya menipu diri sendiri ketika kita mengatakan bahwa kita mengaku dosa langsung kepada Tuhan, karena pikiran kita mampu membayangkan bahwa Tuhan itu ada dan hadir di hadapan kita, tetapi ini tidak menjamin bahwa Tuhan itu sungguh hadir. Kehadiran Tuhan itu sunggguh nyata, tidak hanya hasil buah pikiran, ketika kehadiran Tuhan itu dimediasi, dinyatakan lewat hal-hal konkrit, atau memakai perantara. Dan inilah yang disebut sakramen. Mengapa perlu ada perantara atau sakramen? Karena kita ini adalah manusia yang tidak hanya mempunyai pikiran tetapi juga badan yang dilengkapi dengan pancaindra. Kita bukan malaekat. Kalau kita hanya mengandalkan pikiran kita, kita akan menipu diri kita sendiri, kita jatuh dalam ilusi, kita percaya pada hasil pikiran kita sendiri, karena pikiran itu memiliki kemampuan membayangkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.
Ibaratnya ketika kita mencuri, kita tahu tidak ada orang yang melihat, semua lagi tertidur lelap atau keluar rumah, tetapi tetap juga kita merasa takut, karena pikiran kita menciptakan ilusi bahwa ada saja orang lain yang sedang melihat kita. Atau sebaliknya, kita memberanikan diri meloncati pagar, membongkar jendela dan masuk mencuri, karena pikiran kita membayangkan bahwa tidak ada yang melihat, padahal ada kamera keamanan yang lagi mengintip kita.
Kita lanjutkan cerita mencuri ini. Kita merasa bersalah dan berniat untuk meminta maaf kepada orang yang telah kita rugikan. Kita mulai membayangkan apa yang hendak kita katakan kepada orang tersebut. Kita juga mulai membayangkan reaksi dari orang tersebut. Kita membayangkan sedang meminta maaf kepada dia. Kita berjanji dalam pikiran kita untuk tidak melakukannya lagi, bahkan berjanji untuk mengembalikan apa yang telah kita curi. Tetapi jika ada perasaan malu atau takut tiba-tiba muncul dan  menjadi lebih kuat, apalagi tidak ada yang tahu bahwa kita sudah mencuri, kita mulai membenarkan diri untuk tidak pergi meminta maaf. Kita mulai mengikis perasaan bersalah itu dengan berjanji tidak akan melakukannya lagi, bahkan perasaan bersalah itu hilang ketika kita akhirnya mengembalikan apa yang kita curi itu secara diam-diam pula. Apakah kita sudah minta maaf dan sudah dimaafkan? Tentunya tidak. Perasaan bersalah bisa hilang atau dengan diam-diam kita sudah mengembalikan barang yang kita curi, tetapi itu tidak berarti bahwa kita sudah minta maaf dan dimaafkan. Kita sendirilah yang membayangkan bahwa kita sudah minta maaf dan dimaafkan. Jadi karena kemampuan pikiran membayangkan atau memproyeksikan, kita bisa menipu diri sendiri.
Karena kita manusia yang tidak hanya mempunyai pikiran tetapi juga badan yang dilengkapi oleh pancaindra, kita membutuhkan mediasi, perantara, atau sakramen untuk mengalami kehadiran Tuhan secara nyata. Jika kita mengaku dosa langsung kepada Tuhan, sesungguhnya yang terjadi adalah kita berbicara terhadap diri kita sendiri dan mendengarkan diri kita sendiri yang berarti kita mengampuni diri kita sendiri. Kita menipu diri sendiri.
Imam (pastor/romo) adalah in persona Christi ketika ia mendengarkan pengakuan dosa-dosa kita dan ketika memberikan absolusi kepada kita. Ketika kita pergi mengaku dosa kepada imam, kita sesungguhnya mengaku dosa kepada Tuhan. Di sini pikiran kita tidak sedang dan tidak bisa membayangkan atau mengada-ngada bahwa kita berada di hadapan seseorang, karena memang kita sungguh-sungguh berada di hadapan seseorang yang mendengarkan pengakuan dosa kita. Kita tidak bisa membayangkan atau berangan-angan Tuhan sedang berbicara kepada kita, karena memang kita sungguh-sungguh berada di hadapan seseorang yang sedang memberi kita nasehat, penitensi dan absolusi. Kehadiran seseorang yang nyata membuat kita tidak jatuh dalam ilusi atau menipu diri sendiri. Berada di hadapan seseorang yang sungguh nyata, kita tidak bisa menasehati diri sendiri, memberi penitensi untuk diri sendiri dan mengampuni diri sendiri. Kita akan membiarkan orang yang ada di hadapan kita untuk menasehati kita, memberi kita penitensi, dan mengampuni kita. Mungkin kita berkeberatan dengan kenyataan bahwa yang mendengarkan dosa-dosa saya adalah imam bukan Tuhan. Menjawab keberatan ini kita kembali pada kenyataan yang mendasar bahwa kehadiran Tuhan itu dimediasi, membutuhkan perantara, atau kehadiran sakramental. Tidak bisa tidak. Jika kita menolak kenyataan mendasar ini, berarti kita percaya pada sesuatu yang merupakan hasil pemikiran kita.

Mau ke mana ketika meninggal?


Merindukan Surga
Memasuki Pekan Suci, saya ingin menulis apa yang sering menjadi permenungan tentang hal-hal terakhir yang menunggu manusia: kematian, penghakiman, surga dan neraka. Kematian sepertinya jelas. Setiap orang akan meninggal. Suka atau tidak. Setuju atau tidak. Kita akan meninggal. Tetapi apakah yang terjadi sesudah kematian? Ini yang menjadi perdebatan. Tentunya kita bisa mengatakan sesuatu sebagai pengamat dari luar tentang apa yang dialami oleh mereka yang sudah mendahului kita. Tubuh mereka akan hancur. Berangkat dari pengamatan seperti ini, tidak sedikit orang berpikir bahwa hidup ini hanya sekali saja dan kematian adalah akhir dari segala-galanya. Sesudah kematian, tidak ada apa-apa lagi selain debu yang tersisa. Cara berpikir seperti ini tidak selalu datang dari mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Orang-orang beragama pun tergoda berpikir demikian. Namun jika ada orang beragama yang berpikir seperti itu ada dua kemungkinan yang dimaksudkan. Pertama, orang tersebut tidak memikirkan agama dengan serius. Ia hanya beragama karena tuntutan masyarakat. Kedua, orang tersebut bergumul dengan pertanyaan seputar kematian. Ia mempertanyakan makna hidupnya. Jawaban yang ia temukan akan membuatnya serius tentang agama atau menjadikannya orang tidak beriman.
Kembali ke pemikiran bahwa kematian adalah akhir dari hidup ini, atau tidak ada apa-apa sesudah kematian bagi yang meninggal. Tentunya kita yang hidup melihat bahwa ketika seseorang meninggal, masih ada yang berlanjut yaitu tubuhnya menjadi debu, warisan genetik dalam anak cucunya, buah karyanya bisa dilihat bahkan diabadikan. Jadi masih ada yang tersisa tentang dia yang meninggal. Tetapi ini menurut kita yang melihat dari luar. Bagaimana dengan yang meninggal itu sendiri. Jika kita meninggal apakah kita merasakan apa yang kita lihat ketika orang lain meninggal. Apakah meninggal itu sungguh tidur yang panjang? Tidak ada apa-apa lagi.
Setiap agama menawarkan jawaban. Jawaban mereka pun berbeda satu sama lain. Ada yang mengatakan bahwa sesudah kematian ada reinkarnasi. Kesadaran (bukan roh atau jiwa) dari orang yang meninggal akan lahir kembali. Jika hidupnya buruk sebelum meninggal, kemungkinan akan lahir sebagai kecoak. Jika hidup sebelumnya baik, hidup kemudian akan menjadi lebih baik, dan akhirnya akan keluar dari penderitaan. Tetapi akhir dari reinkarnasi ini adalah ketiadaan.
Ada juga yang menawarkan adanya surga dan neraka. Tetapi gambaran tentang surga dan neraka berbeda dari agama ini dan itu. Ada yang menawarkan surga dan neraka yang amat lahiria. Laki-laki yang terbunuh demi agama akan mendapatkan perawan. Demikian juga dengan neraka yang digambarkan dengan jelas yang penuh dengan siksaan seturut dengan perbuatan kita di dunia ini. Misalnya orang terpotong tangannya tiada hentinya karena mencuri. Bagaimana dengan yang berbuat cabul?
Lantas bagaimanakah iman Katolik? Ungkapan yang tepat menggambarkan tentang apa yang kita alami sesudah kematian adalah “hidup bersatu dengan Tuhan.” Dengan demikian surga berarti bersatu dengan Tuhan, sedangkan neraka berarti terpisah dari Tuhan. Sungguh kenyataan rohania.
Mereka yang percaya bahwa surga dan neraka tidak ada tentunya sudah memilih terputusnya hubungan dengan Tuhan. Mungkin mereka menolak neraka yang penuh siksaan anggota tubuh, tetapi mereka memilih neraka di mana hubungan dengan Tuhan terputus. Mereka yang percaya reinkarnasi, akhirnya sampai pada ketiadaan, tentunya telah memilih di mana kembali berhubungan dengan Tuhan tidak mempunyai tempat. Mereka yang percaya pada surga dan neraka yang lahiriah, tentunya kecewa dan akhirnya menjauh juga dari Tuhan.
Mungkin kita belum bahkan tidak pernah selama persiarahan kita di dunia mendapatkan gambaran yang jelas tentang surga dan neraka, tentang bagaimana itu rasanya bersatu dengan Tuhan atau terpisah dari Tuhan. Tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang beriman Katolik, kita sudah samar-samar mengalami apa yang menunggu kita di akhir persiarahan kita di dunia ini. Apakah yang membuat hubungan kita dengan Tuhan terputus? Dosa. Apa yang kita alami ketika kita larut dalam dosa? Bandingkan dengan apa yang kita alami ketika kita mendapatkan absolusi dari imam di kamar pengakuan? Apa yang membuat hubungan kita dengan Tuhan terjalin? Tuhan sendiri. Apa yang kita alami ketika kita menyambut Tubuh Kristus? Bandingkan saat tidak bisa hadir dalam Perayaan Ekaristi.
Jika kita merindukan surga, jika kita percaya akan janji Tuhan, jika kita mengimani apa yang Tuhan sendiri katakan tentang penghakiman terakhir, surga dan neraka, kita akan menjalani hidup kita di dunia ini berbeda sekali. Kita akan bergantung pada kerahiman Tuhan, pada belas kasih Tuhan. Tidakkah kita melihat bagaimana penganut agama lain berusaha keluar dari karma yang mereka percaya? Tidakkah kita melihat bagaimana penganut agama lain berusaha membersihkan diri dari yang haram dan najis? Tidakkah kita melihat bagaimana mereka yang tidak percaya lari dari kenikmatan yang satu ke kenikmatan yang lain?
Tetapi ada yang melontarkan keberatan misalnya jalan ke surga itu membosankan, tidak ada kesenangan sama sekali, banyak aturan. Atau ada yang menyerang iman Katolik misalnya percaya pada tiga tuhan, menyembah patung. Mungkin kita belum mempunyai kata-kata yang tepat menjawab semua keberatan dan serangan yang ada, mungkin banyak hal yang belum kita mengerti, tetapi jika kita yakin bahwa keselamatan hanya dalam Gereja Katolik, kita tidak akan goyah. Setan di taman Eden sungguh cerdik dan pintar. Dia bersama pengikutnya tidak kehilangan akal untuk mencari penghuni neraka. Tetapi satu kita yakin: Orang Katolik sudah berada pada jalan yang benar. Kita tinggal berjalan ke mana Bapa menunggu kita. Selama perjalanan mungkin kita jatuh bangun, tetapi tidak usah kuatir. Tuhan telah menyediakan sakramen-sakramen lewat Gereja-Nya untuk itu. Selamat memasuki Pekan Suci.

Demi Tuhanku dan Allahku


Demi Tuhan dan Allahku
Di penghujung hari Tuhan ini (6 April 2014), saya membaca dua pengalaman umat yang pertama kali mencoba menerapkan sikap hormat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan menggereja saat menghadiri Kurban Misa Kudus. Sikap yang saya maksud itu adalah memakai mantilla (kerudung) dan komuni di lidah sambil berlutut. Kedua sahabat ini (kami berkenalan di FB) berusaha menerapkan apa yang telah menjadi kebiasaan dalam Gereja ketika berhadapan dengan Sakramen Mahakudus. Memakai mantilla bagi wanita adalah sikap yang menunjukkan secara nyata kerendahan hati dan hormat di hadapan Tuhan. Demikian juga dengan komuni di lidah sambil berlutut.
Dari cerita mereka (tidak perlu menyebut nama mereka di sini, ada banyak orang-orang yang dipuji oleh Yesus yang tidak disebutkan namanya), menerapkan iman yang semakin bertumbuh tidaklah gampang. Kita dihantui oleh pikiran-pikiran negatif: orang lain mengatakan apa nanti, aduh saya akan menjadi perhatian. Atau kita merasa risih, malu, bahkan bergulat apa mau lakukan atau tidak. Kita bahkan keringat, tidak konsentrasi ikut Misa karena sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala, berusaha menenangkan diri, mungkin sekali-kali badan terasa bergetar. Saya kira ini adalah hal yang wajar setiap kali kita melakukan sesuatu yang kurang lazim.
Pelan-pelan perasaan negatif seperti ini akan pudar digantikan oleh sikap hormat yang semakin besar terhadap Sakramen Mahakudus. Perhatian kita bukan lagi terhadap sekeliling kita termasuk komentar mereka tetapi terhadap Tuhan.
Sikap lahiriah seperti memakai mantilla atau berlutut mengungkapkan secara nyata iman kita yang mana kata-kata tidak mampu menyatakannya. Sikap seperti ini menyatakan bahwa yang kita terima sungguh Tubuh Kristus, sungguh Tuhan dan Allah kita.
Kita bisa melihat dari sisi lain. Sikap ini membantu kita semakin percaya. Mungkin kita tidak pernah berpikir serius tentang Sakramen Mahakudus, tetapi dengan memaksa diri berlutut dan komuni di lidah atau memakai mantilla bagi wanita, pikiran kita pula akan dipaksa untuk menerima bahwa yang ada di hadapan kita sungguh Tubuh Kristus.
Cerita kedua sahabat itu meneguhkan panggilan saya sebagai imam. Semoga saya pun semakin serius dan hormat dengan Kurban Misa. Tidak selalu demikian bagi seorang imam, karena mungkin terlalu terbiasa atau terlalu pintar, akhirnya yang sakralpun menguap.

Utak-atik liturgi atas nama perubahan dlm sejarah


Karena belajar dari sejarah,
Misa bisa diubah-ubah?

Kutipan berikut kurang lebih menyatakan alasan di balik para klerus yang suka berkreativitas (menambah, mengurangi, mengubah kata, sikap badan, materi) dalam Misa.

“Are you completely unaware of the historical development of the liturgy? Do you seriously think Holy Mass came down from heaven in the shape of the 1962 Missal? Can you talk about the sacrilege involved in altering the liturgy, when Church history shows that the liturgy has been created by an endless series of alterations?” [M. Mosebach, The Heresy of Formlessness. The Roman Liturgy and Its Enemy, p. 32.]

Saya bahasakan ulang secara bebas: Mereka (terutama kaum klerus) yang suka mengutak-atik bagian-bagian Misa entah itu kata, sikap badan, susunan, bacaan, doa, materi, orang-orang yang terlibat) mendasarkan kreativitas mereka atas kenyataan bahwa Misa itu mengalami perkembangan dalam sejarah. Rubrik Misa 1962 seperti yang kita miliki sekarang itu tidak jatuh dari langit. Apakah kita akan berbicara tentang dosa sakriligi ketika liturgi adalah hasil dari penambahan dan pengurangan yang tidak pernah habis?

Jawabannya adalah sebagai berikut:

Of course the rite is constantly changing on its journey through the centuries! It does this without anyone noticing and without the process having to involve any arbitrary interference. Historical beings that we are, we are subject to the spirit of the age in which we live; we have to see with its eyes, hear with its ears, and think according to its mentality. Changes to an ancient action that are brought about through the shaping hand of history have no author as such; they remain anonymous, and – what is most important – they are invisible to contemporaries; they emerge into consciousness only after generations. Changes and gradual transformations of this kind are never “reforms”, because there is no explicit intention behind them to make something better. A feature of the Church’s most precious store of wisdom was that she had the ability to look down from a great height on this historical process, as on a broad river, recognizing its irresistible power, cautiously erecting dams here and there or redirecting secondary streams into the main channel. Since Holy Mass had no author, since a precise date could be allotted to practically none of its parts – as sally incorporated into the Mass – everyone was free to believe and feel that it was something eternal, not made by human hands. [M. Mosebach, p. 34-35.]

Tidak usah kuatir jika kita sudah lupa pelajaran bahasa Inggris dari bangku sekolah. Saya akan bahasakan ulang.

Tentunya Rubrik 1962 itu adalah hasil perubahan. Tetapi bukan perubahan sembarangan. Perubahan yang dialaminya itu terjadi dalam waktu yang panjang, tidak diketahui siapa yang melakukannya, tidak kelihatan bahwa perubahan sedang terjadi bagi mereka yang mengalaminya dan hanya terlihat setelah beberapa generasi lewat, perubahan yang tidak pernah sengaja dilakukan. Maka dari itu orang sampai mengatakan bahwa Misa itu adalah sesuatu yang kekal bukan buatan manusia.

Berikut tambahan permenungan saya:

Kadangkala orang (khususnya imam) mau mengubah sekedar untuk mengubah. Hari ini demikian, besok lain lagi. Tergantung situasi. Jika setiap kali terjadi perubahan akhirnya yang kita dapatkan adalah Misa hasil rekaya manusia semata. Orang seenaknya mengubah bagian-bagian liturgi karena merasa bahwa pengamatan mereka akan sejarah memberi mereka otoritas untuk melakukannya. Kita tidak bisa menggunakan pengamatan sejarah ini untuk membenarkan tindakan sesaat kita. Perubahan tidak dimaksudkan dalam arti reform. Perubahan haruslah terjadi tanpa diketahui, tanpa disadari, tanpa dimaksudkan, karena Misa lebih tua dari kita dan nenek moyang kita, bahkan lebih tua dari dunia. Biarkanlah diri kita diubah oleh liturgi atau Misa.

Kurban Misa yang kita persembahkan bukanlah untuk menghibur sesama manusia, tetapi untuk menyembah BAPA lewat PUTRA-Nya Tuhan kita Yesus Kristus. Salah satu alasan mengapa saya semakin semangat dan percaya diri untuk merayakan Kurban Misa Forma Extraordinaria, karena tidak ada cela untuk berkreativitas. Kita sungguh diarakan kepada BAPA, baik kata dan sikap. Dengan mengucapkan kata yang tertulis dan melakukan gerakan yang telah ditentukan, saya merendahkan diri di hadapan apa yang Gereja telah wariskan dari Tuhan sendiri. Gereja memberikan kata dan sikap kepada kita supaya kita tidak meraba-raba dalam ketidakpastian kata dan sikap mana yang tepat untuk menyembah BAPA. Supaya manusia yakin bagaimana seharusnya menyembah TUHAN, IA memberikan kepada kita lewat Gereja-Nya cara menyembah DIA yang tepat. Tidak hanya itu, IA sendiri yang menyediakan kurbannya yaitu PUTRA-Nya sendiri.

Apakah kita terlalu pintar sehingga kita menemukan kata dan sikap yang lebih tepat, benar dan indah dari yang TUHAN sendiri telah berikan? Tuhan sudah menyediakan, tinggal yang dituntut dari kita adalah KETAATAN. Mungkin kita protes: tetapi bukankah TUHAN memberi kita otak untuk berpikir? Betul. Tetapi mungkin saja TUHAN memberi kita otak cemerlang supaya kita berpikir bagaimana kita menaati DIA, bukan membangkang melawan DIA.

Jika kita memang harus belajar dari sejarah, kita seharusnya belajar dari apa yang terjadi di awal sejarah manusia. Karena Adam dan Hawa ingin seperti TUHAN, karena mereka tidak taat kepada satu-satunya larangan yang TUHAN berikan, mereka diusir dari taman Eden. Jika kita berpikir bahwa kata dan sikap kita lebih indah, tepat, dan benar dari yang diberikan oleh TUHAN lewat Gereja-Nya, Misa yang kita maksudkan sebagai kurban penyembahan kepada BAPA menjadi kutukan atas diri kita sendiri.

Percaya dengan Lutut. Maksudnya?


Percaya dengan Lutut.
M. Mosebach (seorang penulis, awam, pencinta Misa FE) menulis: “We believe with our knees, or we do not believe at all.” Yang kurang lebih mengatakan: kita percaya dengan lutut kita atau kita tidak percaya sama sekali. Ini dalam konteks menghadiri Kurban Misa. Orang-orang Katolik percaya bahwa yang mereka terima saat komuni adalah Tubuh Kristus sendiri. Yang menjadi pertanyaan: bagaimana kepercayaan itu sungguh nyata? Mosebach menulis lebih lanjut demikian (saya bahasakan ulang): Orang berlutut saat komuni karena ia percaya bahwa Sang Pencipta hadir dalam hosti. Hal ini sungguh bahan tertawaan dan ejekan di banyak tempat, dan kita harus bersyukur kepada Tuhan karena itu.
Jika kita mengamini bahwa saat komuni kita menerima Tubuh Kristus, kita menerima Tuhan, iman ini jangan hanya tinggal di pikiran saja tetapi juga harus nyata dalam gerakan tubuh misalnya berlutut. Orang yang bukan Katolik bisa berpikir seperti kita, tetapi apakah mereka akan berani berlutut di hadapan Tubuh Kristus? Kita terlalu banyak memakai kepala dalam beriman, tetapi jarang dengan anggota tubuh yang lain yang mana tidak kalah pentingnya. Tanpa banyak berkata apa-apa, mereka yang menerima komuni di lidah sambil berlutut menyatakan iman mereka secara mendalam.
Pikirkan ini. Siapa yang sering disuap? Orang yang tidak berdaya. Kita adalah orang-orang yang tidak berdaya di hadapan Tuhan. Berlutut di hadapan orang lain? Tanda hormat dan kerendahan. Kita hormat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Marilah kita menyembah Tuhan tidak hanya dengan kata-kata tetapi juga sikap badan yang mana lebih menyatakan apa yang kata-kata tidak mampu mengungkapkannya.
Tuhan membekati.

Misa membosankan? Seorang umat menjawab.


Tulisan berikut adalah permenungan dari sdri Lia Krisna di fb, sesudah minta ijin, saya kutip seluruhnya untuk kita (awam dan imam) renungkan. Terima kasih kepada sdri Lia. Selamat merenungkan.

“Apakah kau juga merasa bahwa Misa itu membosankan seperti yang kurasakan?”

Paskah sebentar lagi akan datang, aku mulai berpikir, aku akan berbuat apa tahun ini? Lagu2nya mau cari dimana nih yg meriah? KAlo bisa yg tingkat kesulitannya tinggi…biar makin semarak. Tarian anak2??? Wooo bisa kayanya…tinggal koordinasi dengan anak2 sekolah minggu. Jumat Agung pagi mau buat apa? Mau tablo orangnya kurang…pada keluar kota omk-nya … susah buat latian. Yg paling sederhana akhirnya terpikirkan… jalan salib seperti biasa…hanya stasinya dipindah ke luar…namun tetap berakhir dalam gereja. Biar makin serem dan lebih mengharukan…dan makin terasa “duka”nya…aku siapkan beberapa sound efek, music instrument yang sedih, dan tak ketinggalan yaitu puisi. Weeeiiis walao hidup di stasi, bukan berarti tidak bisa berkreasi.

Misa kudus itu menurutku perlu dibenahi, harus ikut perkembangan jaman, lagu2nya harusnya up to date. Apalagi hari raya, harus beda …jangan sampai umat bosan dengan misa yang lama. Sudahlah doa2nya cuma dibaca Romo, lagu2nya “nglaras”..bikin ngantuk, kotbah Romo pun datar2 saja. Harusnya Romo itu kalau kotbah yang hidup, semangat, kalau perlu jalan2 ke umat, wawancara dengan umat, biar umatnya ga ngatuk.”

Itulah yang aku lakukan beberapa tahun lalu. Dan semua itu kulakukan dengan senang hati, dengan tujuan mulia, supaya misa meriah dan umat tidak bosan.

Namun suatu saat aku terbentur dengan yang namanya liturgi. Selama ini aku aktif di gereja, bahkan masa kecilku tinggal di gereja, alm bapakku diakon permanen. Tentunya aku ngerti dong apa liturgi itu. Dan semua itu kulakukan atas nama liturgi juga. Apa sih liturgi itu? Warna baju, urutan misa, bacaannya, mazmurnya, perlengkapan misa…oooh tahu semua itu aku. Dan yang kulakukan tidak pernah dapat teguran, bahkan dapat pujian…jadi tentu saja itu artinya sah.

Namun suatu hari, Romo mulai mengenalkan liturgi yang agak beda. Ini tidak boleh lagi masuk dalam misa, lagu ini lagu profan, tarian itu harusnya pakai music secara life, bukan kaset, lalu berkembang lagi, tarian itu fungsinya apa sih? Apa dengan tarian itu hati umat makin bisa meresapi makna persembahan? Atau tarian ini sbg sarana tampil anak2 kita?

Woooh makin bingung aku… Kenapa ternyata liturgi begitu kaku??? Kenapa semua dilarang? Kenapa inkulturasi dan kreasi menjadi sulit? Gereja makin ga asyik. Pantas saja banyak umat lari ke tetangga, mencari sesuatu yang semarak, meriah, tepuk tangan, tarian, kotbah yang berapi-api, dsb.

Ditengah kebingungan dan kebosananku, Tuhan dengan caranya menarik aku dalam suatu komunitas orang2 yang mengerti liturgi. Aku merasa Tuhan sangat mencintai aku karena aku tidak dibiarkan larut dalam ketidak-tahuanku. Bersama orang2 hebat ini aku banyak belajar apa itu Ekaristi, apa yang terjadi disana. Dari orang2 hebat ini aku jadi tahu bahwa Gereja kita ini punya begitu banyak dokumen, magisterium, Tradisi Suci yang selama ini orang banyak bertanya “Tradisi yang mana yang diwariskan?”, sejarah gereja, perbedaan2 antara Katolik dan Protestan yang kupikir selama ini sudah kupahami tapi ternyata tidak, tata gerak dalam misa, arti dalam setiap perayaan, dan banyaaaaak lagi yang selama ini tidak kuketahui.

Di titik ini aku merasa…”OH SELAMA INI AKU SUDAH MENYIA-NYIAKAN EKARISTI”. Kemarin aku merasa bahwa Gereja ini “miskin”…namun sekarang aku merasa Gereja sungguh “kaya”. Ekaristi yang dulu kurasa membosankan, terasa lama dan tanpa isi, bahkan ga tau apa kotbah Romo, apa sabda Tuhan, bahkan sebenarnya selama ini aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam Ekaristi. Kupikir selama ini Ekaristi itu sama seperti persekutuan Doa, yaitu memuji dan memuliakan Tuhan, hanya bedanya di dalam Misa ada DSA dan komuni. Aku merasakan bahwa lagu2 dalam misa ini tidak cukup mewakili diriku.

Tapi kini aku tahu bahwa dalam setiap kata dalam lagu itu punya makna yang dalam. Bahwa setiap kata dalam lagu2 itu, bukan semata pengalaman pribadi seseorang seperti lagu2 rohani profan, namun setiap liriknya disusun berdasarkan Kitab Suci dan dasar iman Katolik. Ternyata juga bahwa setiap tata gerak kita itu punya makna, mengapa kita berdiri, mengapa kita berlutut, mengapa kita menepuk dada, mengapa kita memandang, mengapa kita mendengarkan sabda dan bukan membaca sabda, dan bahkan dalam setiap liturgi yang kita rayakan itu semua merupakan Tradisi yang bahkan ada sejak Perjanjian Lama. Ternyata aku tidak mengenal  Gerejaku sendiri.

Apakah sekarang aku sudah menjadi seorang ahli liturgi? Oh tidak… aku masih sangat jauh dari sebutan ahli. Masih banyak sekali yang harus aku pelajari. Masih banyak yang aku belum tahu, dan aku sangat menikmati proses ini. Aku merasa jatuh cinta pada Gereja Katolik untuk pertama kalinya. Setiap kali merayakan Ekaristi, aku tidak pernah merasa bosan lagi. Lagu ordinarium yang dulu hanya lagu2 yang lewat tanpa makna, menjadi lagu yang paling aku nantikan, karena disanalah ungkapan iman itu dinyatakan.

Jika kau bertanya, mungkin aku belum bisa menjawab, karena masih terbatasnya pengetahuanku,tapi akan kucari jawabnya untukmu. Dan jika kau ingin tahu, mari belajar mengenal Gereja Katolik bersamaku. Mari kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Percayalah...bahwa misa tidak akan membosankan lagi.

Aku mengucap banyak terima kasih untuk semua yang sudah membimbing aku selama ini..para ahli liturgi, teman2 di group, page2 Katolik,.... dan jangan bosan jika aku masih akan banyak bertanya.