Tuhan memberikan Diri-Nya sendiri



Tuhan memberikan Diri-Nya sendiri
Katolik adalah agama sakramental, dan praktek Katolik didasarkan pada prinsip sakramental. Yang saya maksudkan dengan prinsip sakramental adalah bahwa Allah menggunakan benda-benda biasa seperti air, minyak, roti, dan anggur sebagai sarana untuk mengkomunikasi diri-Nya kepada kita. Komunikasi ini bukan terutama secara intelektual atau dengan kata-kata, melainkan dengan memberi, dalam kasih, dirinya sendiri, yaitu, Allah, kepada yang lain, yaitu, kepada umat-Nya. Maka dari itu dalam sakramen, kita berhadapan, tidak semata-mata dengan penyampaian pesan melalui kata-kata, tetapi dengan kasih Allah yang memberikan diri-Nya kepada kita, dan Ia memberikan diri-Nya kepada kita supaya kita dapat menjadi lebih seperti Dia. Kristus datang untuk ambil bagian dalam kemanusiaan kita sehingga setiap orang bisa mengambil bagian dalam keilahian-Nya.”

[Catholicism is a sacramental religion, and the practice of Catholicism is based on the sacramental principle. By the sacramental principle, I mean the Catholic teaching that God uses ordinary material things such as water, oil, bread, and wine as a means for communicating himself to us. This communicating is not primarily intellectual or verbal; rather, it is a giving, in love, by one person of himself, that is, God, to other persons, that is, to his people. In the sacraments, then, we are dealing, not merely with the speaking of a message through words, but with the God of love giving himself to us, and he gives himself to us so that we can become more like him. Christ came to share in our humanity so that every one of us could become partakers of his divinity. (J. Robinson, The Mass and Modernity, p. 93.)]

Kemarin sore (30 Agustus 2013) dalam Misa, tiba-tiba saya mengerti perkataan ini (kalimat yang diwarnai kuning di atas): Tuhan menggunakan anggur dan roti untuk menyatakan diri-Nya sendiri kepada manusia. Itu berarti bahwa Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur adalah cara Tuhan menyelamatkan kita. Ketika kita menyantap Tubuh dan Darah Kristus, kita diselamatkan. Kita bisa merenungkan lebih dalam bahwa keselamatan itu adalah sungguh pemberian dari Tuhan. Keselamatan itu nyata, bukan hanya ide atau angan-angan di kepala atau pikiran. Tetapi sesuatu yang kita sudah dapat cicipi sekarang di dunia ini dan tentunya akan disempurnakan di dunia akhirat. Seperti pemazmur mengatakan: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” (Mz 34:8).
Dalam Gereja Katolik ada dua sakramen yang kita terima berulang kali untuk merasakan dan mengalami keselamatan dari Tuhan. Kedua sakrament itu adalah Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Apakah yang menunggu kita di dunia akhirat? Bukankah Perjamuan Anak Domba Allah? Bukankah Kerahiman Tuhan? Keduanya sudah kita cicipi di dunia ini dalam sakramen Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Alkitab berulang kali menerangkan keselamatan itu terwujud dalam pengampunan dosa dan perjamuan. Kita ingat perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32), cerita tentang Zakheus (Luk 19:1-10), cerita tentang Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (Luk 7:36-50). Dalam perikop-perikop ini pengampunan dosa dan perjamuan terjadi bersamaan. Tentunya dalam bagian lain dari Alkitab kita masih bisa menemukan perjamuan dan pengampunan yang merupakan wujud nyata dari keselamatan.
Keselamatan itu diberikan bukan diusahakan, diucapkan, dipikirkan. Yesus bersabda: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Tuhan memberikan diri-Nya untuk kita makan dan minum supaya kita selamat. “Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Ambillah, inilah tubuh-Ku.’ Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka: ‘Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:22-24).
Kalau Tuhan sudah menyediakan dan memberikan keselamatan dengan mudah, mengapa kita menyusahkan diri dengan berusaha menyelamatkan diri sendiri? Mengapa kita membuang tenaga dan waktu untuk meyakinkan diri dan berpikir bahwa Tuhan sudah mengampuni kita? Sambutlah Tubuh Kristus dan terimalah Sakramen Pengampunan sesering mungkin. Ini cara Tuhan memberikan keselamatan kepada manusia. Tetapi banyak yang menolak dan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kadang kala kita menipu diri dengan mengatakan bahwa banyak melakukan perbuatan baik adalah cukup dan Tuhan tentunya akan mempertimbangkan akan hal itu. Memang Tuhan akan mempertimbangkan perbuatan baik kita pada hari penghakiman (Mat 25:31-46), tetapi sejauh mana kita yakin bahwa kita selalu setia melakukan yang baik? Memang perbuatan baik bisa menghapus dosa (Sir 3:30, Tob 4:10), tetapi sejauh mana kita yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan bisa menutupi semua dosa kita? Lebih baik kita bergantung pada kerahiman Tuhan dari pada keadilan manusia. Kita bergantung pada keadilan manusia ketika kita berusaha berbuat baik untuk mengimbangi dosa-dosa kita. Tetapi jika kita datang kepada Tuhan seperti orang yang memohon dibebaskan dari utang yang banyak, saat itu kita bergantung pada kerahiman Tuhan.
Lantas mungkin kita berpikir kalau begitu cukup kita rajin pergi misa dan mengaku dosa. Ini juga menipu diri. Orang-orang yang mengatakan seperti ini adalah mereka yang jarang pergi gereja dan tidak berani pergi mengaku dosa. Mereka yang rajin komuni dan mengaku dosa adalah juga mereka yang rajin berbuat kebaikan. Semakin banyak kita menerima kebaikan Tuhan (Sakrament Ekaristi) dan semakin kita menerima kerahiman Tuhan (Sakramen Tobat), kita akan semakin penuh dengan suka cita untuk berbuat kebaikan. Kita ingat cerita tentang Zakheus dan perempuan berdosa yang mengurapi Yesus. Mereka melakukan kebaikan dengan sukacita karena kerahiman Tuhan yang mereka terima saat itu bukan yang akan mereka terima.
Dan yang terakhir: jika demikian, kita berbuat dosa sebanyak-banyaknya dan seberat-beratnya karena Tuhan akan mengampuni kita dalam Sakramen Tobat. Jawaban saya: silahkan, tetapi ingat: Tuhan menjemput kita seperti pencuri. Banyak yang meninggal saat mereka melakukan dosa dan kejahatan. Tuhan dalam Alkitab mengatakan kepada kita untuk selalu berjaga-jaga. Sedapat mungkin kita meninggal dalam keadaan berahmat, dalam kerahiman Tuhan. Ketika kita sakit keras atau dalam bahaya maut mengapa kita tidak memanggil pastor untuk mengaku dosa dan menerima komuni?
Kembali kepada Tubuh dan Darah Kristus. Banyak dari antara kita yang tidak hormat kepada Tubuh Kristus saat menerima komuni. Tuhan sendirilah yang kita terima. Jika kita tidak percaya itu, lebih jangan kita pergi komuni. Gereja melarang kita menerima komuni jika kita dalam keadaan berdosa berat. Kita harus mengakukan dosa berat kita sebelum komuni. Dalam tradisi Gereja, sikap yang wajar saat menyambut komuni adalah berlutut dan komuni diberikan di lidah. Mengapa tidak memakai pakaian yang terbaik saat pergi Misa? Hal-hal kecil seperti ini membantu kita percaya dan mengalami secara nyata keselamatan yang diberikan Tuhan yaitu Tubuh-Nya sendiri.

Pengalaman akan Ibadat Harian



Pengalaman akan Ibadat Harian
Mungkin banyak, termasuk para imam, yang bertanya bagaimana seorang pastor menjalankan Ibadat Harian yang diwajibkan oleh Gereja kepada para imamnya. Ibadat Harian (Brevir) terdiri atas 7 bagian:
1) Ibadat Bacaan
2) Ibadat Pagi
3) Ibadat Siang (Tertia, Sexta, Nona)
4) Ibadat Sore
5) Ibadat Malam
Ibadat Siang terdiri atas 3 bagian dan Gereja mewajibkan mendoakan salah satu, tetapi ada biarawan-biarawati yang wajib mendoakan ketiga-tiganya.
Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk setia mendoakan Ibadat Harian itu. Pada saat tahbisan diakon, saya di hadapan uskup berjanji untuk menjalankan dengan setia Ibadat Harian yang adalah ibadat liturgis Gereja. Namun tidak selalu mudah memenuhi apa yang saya telah janjikan di hadapan bapak uskup. Tiga bulan sesudah tahbisan diakon, saya masih semangat untuk mendoakan Ibadat Pagi dan Ibadat Sore. Tetapi pelan-pelan tinggal Ibadat Sore, karena selain malas, saya beranggapan bahwa Misa di pagi hari sudah cukup dan tidak perlu lagi Ibadat Pagi. Waktu itu saya tidak pernah memikirkan untuk melakukan Ibadat Bacaan dan Ibadat Siang. Kadang kala saya menjalankan Ibadat Malam, kalau tidak terlalu capek, sebelum pergi tidur. Saya tidak menjalankan Ibadat Bacaan karena saya menganggap sudah digantikan oleh bacaan Kitab Suci yang sering saya lakukan. Ibadat Siang pernah saya teratur lakukan ketika masih ada di Paris, karena sebelum makan siang, kami bersama-sama melakukannya. Jadi berkat komunitas, saya menjalankannya. Sejak tinggalkan Paris, saya tidak pernah lagi menjalankan Ibadat Siang.
Kedatangan saya kedua kalinya di Roma, ada perubahan besar dalam menjalankan Ibadat Harian. Saya bertobat dan pelan-pelan melakukan kewajiban saya yang satu ini: mendoakan Ibadat Harian. Awalnya saya berpikir, Ibadat Harian dengan 5 bagian itu akan menyita waktu studi saya. Tetapi dalam proses permenungan saya di hadapan Sakramen Mahakudus, terpikirkan bahwa biarlah saya gagal dalam studi tetapi saya tidak mau gagal dalam menjalankan kewajibanku yang satu ini. Sebagai catatan sampingan, meskipun waktu untuk berdoa semakin bertambah, tetapi ternyata hasil studi (nilai) cukup memuaskan.
Menjalankan Ibadat Harian tidak selalu berjalan mulus. Kecendrungan yang ada adalah tawar-menawar. Saya pergi mencari alasan yang bisa membebaskan saya untuk tidak mendoakan seluruh bagian Ibadat Harian itu. Tetapi saya tidak menemukan satu alasan pun, kecuali dengan alasan sakit. Tetapi sepertinya sehat terus. Saya akhirnya berhenti mencari alasan untuk tidak berdoa dan mulai memupuk sikap positif terhadap Ibadat Harian itu. Selain kewajiban, saya patut bersyukur karena Gereja telah memberikan sarana kepada kita untuk berdoa senantiasa kepada Bapa lewat PutraNya Yesus Kristus. Ibadat Harian adalah juga rahmat bagi para imam untuk selalu menjalin hubungan dengan Tuhan. Ini menjadi salah satu alasan untuk melakukan Ibadat Harian dengan setia, selain tanggung jawab di hadapan Tuhan dan sesama (Gereja).
Yang cukup mudah adalah Ibadat Pagi, Ibadat Sore dan Ibadat Malam. Karena komunitas mendoakan Ibadat Sore bersama, saya terbantu dan terikat untuk melakukan ibadat Sore. Ibadat Malam tidak terlalu sulit karena selain pengalaman sebelumnya, ibadat ini singkat, sekitar 7 menit. Ibadat Malam saya lakukan sebelum pergi tidur. Untuk dapat melakukan Ibadat Pagi dengan teratur, saya hadir lebih awal sebelum Misa, sehingga saya terbiasa dan setia dengan Ibadat Pagi. Lantas Ibadat Siang yang sebenarnya juga singkat sekitar 10 menit, saya melakukannya di kamar sebelum makan siang. Ibadat Siang ini kadang kala saya lupa karena terlalu sibuk di depan komputer, hingga ketika tiba jam makan, saya hanya berpikir untuk melakukannya sesudah makan, tetapi sesudah makan tidak ingat Tuhan lagi.
Ibadat Bacaanlah yang jatuh bangun. Saya mencari-cari waktu yang tepat untuk melakukannya. Karena masih mencoba-coba, akhirnya sering lupa. Ibadat Bacaan, kebanyakan saya satukan dengan Ibadat Sore. Sebelum bergabung dengan komunitas, saya melakukan Ibadat Bacaan. Tetapi kadangkala saya terbatas dengan waktu sehingga saya harus membaca salah satu bacaaan yang tersedia di lain waktu. Ibadat Bacaan ini lebih lama karena ada 3 mazmur dan 2 bacaan yang cukup panjang (satu dari Kitab Suci dan yang lainnya dari tulisan [pujangga] Gereja). Lama baru Ibadat Bacaan ini menjadi kebiasaan saya.
Jadi, hingga saat ini setelah melewati proses “trial and error” (istilah Indonesianya: jatuh bangun), kurang lebih Ibadat Harian saya lakukan demikian. Pada weekdays (Senin hingga Jumat) Ibadat Bacaan saya lakukan sekitar jam 6 sore sebelum Ibadat Sore dengan komunitas. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, karena lebih sering saya misa sendirian, saya melakukan Ibadat Bacaan sesudah Misa. Lantas Ibadat Pagi menjadi kegiatan awal harian saya. Sedangkan Ibadat Siang saya bersiteguh untuk melakukannya sebelum makan siang, meskipun harus terlambat untuk makan, supaya jangan lupa ketika perut sudah kenyang. Ibadat Sore bersama dengan komunitas dan sebelum tidur saya melakukan Ibadat Malam. Dalam Ibadat Malam ini ada bagian pemeriksaan batin dan juga doa memasrahkan diri kepada Tuhan.
Apa yang dulu saya kuatirkan bahwa Ibadat Harian akan mengganggu jadwal studi saya, ternyata tidak benar. Justru waktu di depan internetlah yang mengambil banyak waktu studi saya. Untuk setia melakukan Ibadat Harian ini, tentunya saya tidak tergantung banyak pada usaha saya. Saya selalu mohon bimbingan Roh Kudus untuk membantu, menguatkan, menyemangati saya supaya tetap setia entah dalam masa kering maupun ketika lagi in mood.
“Roh Kudus bantulah aku untuk setia melakukan Ibadat Harian yang diberikan oleh Gereja-Mu yang kudus. Amin.”


Doa Teratur Membuat Hidup Teratur
Keteraturan? Banyak orang berpikir bahwa hidup yang teratur itu membosankan dan sulit. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk hidup teratur membutuhkan disiplin terutama ketika mulai belajar hidup teratur. Selanjutnya ketika hidup sudah mulai teratur, hidup menjadi otomatis tanpa ada perasaan berat untuk menjalankan keteraturan itu. Salah satu sarana untuk membuat hidup teratur adalah dengan berdoa secara teratur. Berdoa pada jam yang sama akan membantu kita mengatur kegiatan kita sepanjang hari. Keteraturan dalam doa akan mempengaruhi hidup kita.
Jika kita memutuskan untuk berdoa setiap pagi jam 5 maka dengan sendirinya kita akan memikirkan jam berapa kita akan bangun. Kalau kita mau berdoa jam 5 tentunya kita akan berusaha bangun sebelum jam 5. Lebih jauh lagi, jika kita hendak bangun sebelum jam 5, kita juga akan memikirkan jam berapa kita harus pergi tidur pada malam sebelumnya supaya kita mempunyai waktu yang cukup untuk tidur dan dengan demikian kita bangun dengan segar. Dari pengalaman saya, untuk dapat bangun jam 5, saya sudah harus pergi tidur sebelum jam 11.
Mungkin kita buru-buru di pagi hari, jadi kita memutuskan berdoa setiap malam sebelum pergi tidur. Ini juga akan mempengaruhi cara kita mengatur kegiatan kita. Kita akan menghentikan kegiatan kita sebelum kita mengantuk sekali, supaya masih ada tenaga untuk berdoa. Atau lebih aman lagi, kita menentukan jam berapa kita akan berdoa di malam hari, misalnya jam 10. Jadi ketika jam 10 malam mendekat, kita akan menghentikan kegiatan kita untuk berdoa, lantas entah melanjutkan kegiatan yang kita hentikan sejenak atau kita langsung pergi tidur.
Gereja Katolik meminta kita untuk berdoa beberapa kali dalam satu hari. Tentunya pagi dan malam, ditambahkan pada tengah hari dan jam 6 sore yaitu mendoakan doa angelus (doa malaikat). Jika kita mulai mendisiplinkan diri dengan pelan-pelan berdoa secara teratur, tanpa kita sadari hidup kita menjadi teratur. Jadi doa yang teratur adalah kerangka utama dari hari kita. Kita dibantu untuk menghentikan kegiatan yang telah berlangsung lama. Ini semacam istirahat. Bayangkan kita bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Kita berjanji setiap tengah hari kita mendoakan doa angelus (3 kali Salam Maria), kita akan berhenti mengambil waktu sedikit untuk berdoa. Ini juga memberikan kita keyakinan bahwa apa yang ada di dunia ini relatif, sekunder. Ada hal yang lebih utama yaitu Tuhan, keselamatan kita.
Sebagai pemula, kita berangkat dari yang sederhana. Kita cukup memutuskan satu waktu tertentu berdoa: entah itu pagi hari, tengah hari (angelus), atau malam hari. Setelah berlangsung dengan teratur dan kita mulai merasa bahwa berdoa satu kali sehari tidak cukup, kita mulai tambahkan waktu yang lain. Akhirnya kita bisa menjalankan apa yang Tuhan kehendaki dari kita lewat ajaran Gereja-Nya.
Pemazmur mengatakan: Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau (Mzm 119,164). Kita mulai dengan sekali dalam sehari, akhirnya suatu saat sebelum meninggal kita akan berdoa tujuh kali dalam sehari: 1]pagi saat bangun, 2]sebelum pergi tidur, 3] tengah hari (angelus), 4] jam 6 sore (angelus), 5] doa sebelum dan sesudah sarapan, 6]doa sebelum dan sesudah makan siang, dan 7] doa sebelum dan sesudah makan malam. Lebih jauh lagi, untuk doa pagi dan doa malam ada baiknya kita mengambil 1 mazmur. Mazmur adalah doa Yesus dan Gereja sepanjang masa. Jadi dengan mendoakan mazmur setiap hari kita ikut bersama dengan Gereja mendoakan doa Yesus. Satu catatan: ada mazmur yang panjang sekali misalnya mazmur 119 yang bisa dipenggal untuk beberapa hari.
Secara konkritnya untuk doa pagi dan doa malam, kita mulai dengan tanda salib, kemudian 1 mazmur yang diakhiri dengan doa ‘Kemuliaan’. Lantas intensi pribadi yang ditutup dengan doa ‘Bapa Kami’ dan ‘Salam Maria’ dan tanda salib. Jika dilakukan bersama dengan anggota keluarga, orang tua terutama si bapak memberkati anak-anaknya dengan memberi tanda salib pada dahi mereka. Yang penting melakukannya dengan pelan-pelan tapi teratur akhirnya sebelum meninggal kita boleh bersama pemazmur mengatakan kepada Tuhan: Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau.
Kembali kepada pernyataan: hidup teratur membosankan. Apakah sungguh membosankan? Secara singkat, saya memberikan beberapa manfaat dari hidup teratur:
1.       Keteraturan membuat hidup lebih mudah. Kita tidak akan selalu memikirkan apa yang hendak kita lakukan setiap hari. Kalau kita pergi tidur jam 11 setiap malam, kita akan mudah bangun jam 5 pagi. Jika kita menempatkan barang secara teratur, kita akan mudah mendapatkannya jika kita membutuhkannya. Hidup yang teratur membuat hidup lebih otomatis dan tidak perlu memikirkannya lagi.
2.       Hidup teratur membuat perasaan aman dan nyaman. Kalau ada keteraturan, perasaan kita aman dan nyaman. Bayangkan kalau di jalan raya tidak ada keteraturan, pastilah kita tidak aman. Atau pemasukan uang tidak teratur, tentunya selalu dilanda kekuatiran. Kalau kita tidak teratur bangun dan tidur, badan kita akan terganggu.
3.       Keteraturan membuat hidup lebih indah dan bermakna. Jika hidup kita teratur, akan selalu ada perasaan bahwa kita telah memenuhi tugas kita, ada kepuasaan bahwa kita telah mencapai apa yang kita inginkan. Musik ada karena adanya keteraturan nada. Lukisan yang indah karena memenuhi kriteria tertentu.
4.       Keteraturan membuat hidup lebih sehat. Hanya dengan makan, tidur, olahraga teratur, kita bisa hidup sehat.
5.       Keteraturan membuat hidup lebih bebas. Keteraturan tidak membuat hidup kita terkurung dalam waktu. Justru membebaskan kita karena keteraturan membantu kita menghemat waktu dan energi sehingga kita bisa memikirkan dan melakukan kegiatan yang lebih besar lagi. Keteraturan membuat kita melihat semua kegiatan dalam proporsi yang benar dan berimbang. Kita dibebaskan dari perbudakan pekerjaan atau kegiatan lain misalnya menonton TV, chatting dan updating FB. Kita akan mempunyai kekuatan untuk mengontrol diri. Inilah kebebasan sejati. TV dan Facebook bukanlah segala-galanya, tetapi Tuhan.


Benediktus XVI: mendekatkan diri kepada Tuhan
Paus Benediktus XVI pada tanggal 28 Februari 2013 secara simbolis mengatakan kepada dunia: Tuhan-lah segala-galanya. Itulah kotbah hidup dari beliau yang akan selalu dikenang. Ia mengajak dunia yang bergejolak dengan banyak permasalahan dan kejahatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pengunduran dirinya membuat saya sedih. Tetapi yang membuat saya lebih sedih lagi adalah komentar negatif, tuduhan, dan caci maki yang beliau terima dari berbagai macam pihak mulai dari kardinal sampai pada pelacur. Sebagai seorang imam, apakah yang saya bisa katakan? Tentunya tidak akan ikut menambah panasnya diskusi tentang kemungkinan Paus Benediktus XVI mengundurkan diri karena masalah rumit seperti pencurian dokumen rahasia (Vatikanleak), krisis keuangan yang melanda Vatikan, kasus pedofil yang melibatkan sejumlah imam. Biarlah alasan kesehatan dan usia itu sudah cukup bagiku. Saya belajar menerima apa yang dikatakan sendiri oleh orang yang bersangkutan dari pada opini orang lain tentang orang tersebut.
Dalam Gereja dan dunia yang penuh dengan persoalan, Paus Benediktus XVI menawarkan alternatif yang tentunya membuat sebagian dari kita senyum sinis. Berdoa, berdoa dan berdoa. Itulah yang ia tawarkan. Ia tidak hanya mengajarkan tetapi ia melakukannya. Tentunya ia menyadari bahwa ia akan dicaci maki sebagai pengecut, dituduh melarikan diri dari salib, tetapi ia yakin bahwa hanya dengan mendekatkan diri kepada Bapa, Gereja dan dunia lepas dari persoalan. Ia tidak hanya meminta orang lain untuk mendoakan Gereja dan dunia, tetapi ia sendiri melakukannya. Secara simbolis ia turun dari tahta Petrus dan pergi bersujud di hadapan Tuhan.
Merenungkan jatuh bangunnya hidup saya sebagai imam, apa yang Bapa Suci Paus Benediktus XVI pesankan itu sungguh bermakna. Saya tidak lepas dari kenakalan, kesalahan, kejahatan dan dosa. Saya melihat ketika saya setia dalam hidup doa, saya mudah mengakui dan mohon ampun atas kejahatan dan dosa saya, mudah meminta maaf atas kenakalan dan kesalahan saya. Dan ketika semakin setia berdoa, perubahan terjadi dengan sendirinya. Dalam doa, saya sungguh berharap Bapa akan memberikan yang terbaik. Dalam doa, saya bergantung pada belas kasih Tuhan. Seandainya pentingnya doa itu sebatas wacana saja, mungkin hari ini saya bukan imam lagi.
Para imam saudaraku, mari kita mengikuti jejak Benediktus XVI untuk semakin setia dalam doa, semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Gereja telah memberikan sarana dan meminta kita setia melakukannya: 1] mendoakan Ibadat Harian, 2] merayakan Ekaristi setiap hari, dan 3] teratur mengaku dosa.
Saya percaya dengan doa-doa Benediktus XVI, keadaan Gereja dan dunia akan membaik. Dengan doa, kita tidak mengandakan kekuatan kita sendiri, tetapi bergantung pada belas kasih Bapa.