Kerahiman Tuhan (2)
Kerahiman Tuhan itu tidak terbatas. Dan untuk menerima kerahimanNya itu, kita tinggal berteriak: “Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Tuhan itu sungguh maharahim, tetapi Ia tidak memaksakan belaskasihNya kepada kita. Tuhan menghargai kebebasan manusia. Memang Tuhan mengupayakan segala sesuatunya untuk menyelamatkan kita, tetapi Ia menunggu jawaban kita. Jika Tuhan memaksa seseorang masuk surga, orang tersebut tidak akan bahagia di sana. Surga akan menjadi neraka baginya.
Mari kita merenungkan Injil Lukas bab 15.
Ada dua perumpamaan yang menggambarkan bagaimana Tuhan mengupayakan segala sesuatunya untuk menyelamatkan orang berdosa, misalnya: perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang (Lukas 15,1-10). Tuhanlah yang pertama mengambil inisiatif. Sedangkan perumpamaan tentang bapa yang baik atau anak yang hilang (Lukas 15,11-32) menggambarkan gabungan antara kerahiman Tuhan dan usaha manusia dalam bertobat.
Perumpamaan tentang bapa yang baik (Lukas 15,11-32) menggambarkan bagaimana Tuhan mengampuni manusia. Kita berdosa karena kita menjauh dari Tuhan. Ungkapan “menjauh dari Tuhan” dapat berarti tidak taat terhadap perintah dan melanggar larangan Tuhan. Tetapi ungkapan itu dapat juga berarti bahwa Tuhan tidak mempunyai arti apa-apa dalam hidup seseorang, meskipun ia beragama. Atau dengan kata lain: ia tidak membutuhkan Tuhan. Akibat dari dosa adalah kehinaan dan kebinasaan. Supaya kita bebas dari dosa dan akibat-akibatnya, hanya satu hal yang kita perlu lakukan adalah kembali kepada Tuhan.
Tuhan itu maharahim. Ia mendekati kita dengan berbagai macam cara supaya kita kembali kepadaNya.
Kadangkala kita mengalami peristiwa yang menyedihkan bahkan nyaris mengambil nyawa kita. Atau kita mendengar dan melihat peristiwa yang memilukan hati. Atau kita dalam ketakutan atau kesulitan. Atau kita mempunyai banyak masalah. Bukankah saat-saat seperti ini membuat kita mengingat Tuhan?
Tentunya kita tidak perlu menunggu peristiwa-peristiwa yang menyedihkan seperti itu untuk kembali kepada Tuhan. Bunda Gereja mengerti akan kebutuhan kita. Ia telah menetapkan waktu-waktu tertentu untuk menyadarkan kita untuk kembali kepada Tuhan. Gereja menganjurkan kita untuk memeriksa batin sebelum pergi tidur. Gereja menetapkan setiap hari Jumat sepanjang tahun adalah hari pantang dan tobat. Ada masa adven dan prapaskah sebagai masa tobat dan waktu khusus untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Bagaimana kita mengartikan “kembali kepada Tuhan”? “Kembali kepada Tuhan” pertama-tama tidak berarti mengubah kelakuan kita yang buruk, jahat, immoral, atau memalukan. Mungkin kita berpikir bahwa kita harus mengubah kelakuan kita untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Dari perumpamaan-perumpamaan dalam Lukas 15 mengatakan hal yang lain. Kita tidak harus berubah sebelum menerima kerahiman Tuhan. Tidak mutlak memperbaiki diri sebelum datang kepada Tuhan.
Jadi “kembali kepada Tuhan” berarti mengakui dosa kita dan menerima pengampunan dari Tuhan. Biarkanlah belaskasih Tuhan yang mengubah kita. Biarkanlah rahmatnya yang mengubah kita. Kelihatan mudah sekali bukan? Ya semudah itu, tetapi masalah kita adalah kesulitan percaya akan kemudahan yang Tuhan berikan. Kita menyulitkan diri sendiri.
Orang yang percaya bahwa kerahiman Tuhan dapat mengubah hidup manusia ibarat seseorang yang tidak tahu berenang jatuh ke laut, yang membiarkan dirinya mengapung dan terbawa arus ke pantai. Yang ia harus lakukan hanyalah membalikkan badan menghadap ke atas dan membiarkan badannya relaks atau santai. Tetapi jika ia berusaha menyelamatkan diri, ia akan semakin tenggelam akhirnya mati. Jadi cukuplah kita orang berdosa ini datang kepada Tuhan mengakui segala dosa kita dan membiarkan pengampunan Tuhan mengubah kita.
Lewat Sakrament Tobat Gereja mempermudah kita menerima pengampunan dari Tuhan secara nyata dan membantu kita percaya pada kerahiman Tuhan yang mengubah kita. Lewat Sakramen Tobat kita membiarkan rahmat bekerja lebih banyak dari pada usaha kita. Amin.


Kerahiman Tuhan (1)

            Kerahiman Tuhan adalah salah satu tema yang patut kita renungkan selama masa Prapaskah ini. Sejak saya masuk CICM, tema tentang kerahiman Tuhan ini lebih banyak saya renungkan. Tentunya lebih dari sekedar merenungkannya, saya juga semakin merasakan kerahiman Tuhan itu dalam hidup saya.
            Kata ‘rahim’ mempunyai beberapa arti. Bukanlah sesuatu yang kebetulan jika kata rahim bisa merujuk pada kandungan ibu dan juga pada belas kasih. Kandungan ibu dan belas kasih berkaitan satu sama lain. Untuk mengerti baik kata ‘rahim’ dalam arti belas kasih itu kita selayaknyalah menghubungkannya dengan kandungan ibu yang juga adalah arti dari kata ‘rahim’ itu. Belas kasih ibu bisa merangkum hubungan itu.
            Seorang ibu mulai dari masa kehamilan sampai pada kematian akan selalu mengasihi anak-anaknya. Ia akan selalu berusaha dari kekurangan dan keterbatasannya membahagiakan anak-anaknya itu. Belas kasih ibu atau orang tua (bapak dan ibu) akan nampak semakin nyata ketika mereka tetap menyayangi anaknya yang nakal, kurang ajar, atau jahat. Tentu saja orang tua sedih jika anaknya berkelakuan tidak baik tetapi mereka tidak sampai hati mengingkari anak mereka itu. Malah mereka semakin mencintainya. Orang tua tentunya mencintai semua anak-anak mereka, tetapi ada saja anak yang lebih diperhatikan, lebih disayangi. Biasanya yang lebih diperhatikan itu adalah anak yang sakit-sakitan, yang jelek, atau yang nakal. Orang tua akan mengupayakan apa saja untuk anak mereka yang nakal itu supaya anaknya tetap bahagia dan tetap merasa disayangi.
            Kerahiman Tuhan lebih daripada belas kasih ibu atau orang tua. Tidak mungkin seorang ibu tidak akan menyayangi anak dari kandungannya, tetapi sekiranya itu mungkin, Tuhan tidak akan melupakan manusia (bdk Yes 49,15). Kasih sayang orang tua itu jauh lebih besar dari kelakuan buruk anak-anak mereka. Demikian juga Tuhan. Kerahiman Tuhan itu jauh lebih besar dari segala dosa, kesalahan, kelemahan, keterbatasan dan ketidaklayakan kita. Kasih orang tua tidak mengharapkan balasan. Mereka hanya menginginkan anak-anak mereka bahagia. Demikian juga dengan Tuhan. Kerahiman Tuhan tidak bisa kita tukar dengan segala perbuatan baik kita. Kerahiman Tuhan itu cuma-cuma. Tuhan ingin kita bebas dari rasa salah, rasa ketidaklayakan, rasa berdosa supaya kita bebas menikmati hidup yang Tuhan telah berikan.
            Kadang kala kita berpikir bahwa kerahiman Tuhan itu ada batasnya. Jika kita tidak bertobat sebelum maut menjemput kita, nasib kita adalah neraka. Tetapi kita perlu percaya bahwa kerahiman Tuhan itu tidak bisa dibatasi termasuk kematian. Jangan sampai kita heran jika di surga nanti kita duduk berdampingan dengan tetangga kita yang berkelakuan buruk. Jangan sampai kita mengatakan kepadanya: “kamu juga ada di sini,” seolah-olah dia tidak mempunyai hak akan surga, hak untuk diampuni. Orang bisa saja akhirnya bertobat setelah sampai di hadapan Tuhan, karena Tuhan selalu melakukan segala macam cara supaya manusia mau menerima tawarannya yaitu hidup abadi bersama denganNya. Sampai-sampai Ia memberikan PutraNya sendiri sebagai pemulih atas dosa-dosa kita. Kalau itu tidak cukup, Ia melimpahkan Roh KudusNya yang akan membuat kita selalu merindukan kerahiman Tuhan itu dan berteriak memohon kepada Bapa yang sungguh maharahim. Jadi kerahiman Tuhan itu sungguh tidak terbatas, lebih dari yang bisa kita pikirkan.
Apa yang Tuhan inginkan dari kita? Tidak lain tidak bukan: “Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini.” atau lebih kerennya: “Kyrie eleison. Christe eleison.” Amin.


Masa Prapaskah Masa Bertobat
Masa Prapaskah sudah di ambang pintu. Pada hari Rabu 13 Februari 2013, dahi kita akan ditandai salib dengan abu dan mendengar imam mengatakan: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Masa Prapaskah adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertobat dan kembali kepada Injil. Dengan berbagai macam sarana yang disediakan oleh Gereja, kita diajak menanggapi tawaran Tuhan yang berbelaskasih dan pengampun itu.
Tobat dan Injil berkaitan satu sama lain. Injil artinya kabar sukacita. Isi dari Injil itu adalah keselamatan dari Tuhan yang terwujud dalam diri Yesus Kristus Putra-Nya. Ketika kita berbicara tentang keselamatan, kita akan menyinggung juga kerahiman Tuhan, belaskasih Tuhan. Kita selamat karena kita diampuni. Apa hubungan antara dosa, tobat, dan pengampunan Tuhan? Hubungan kita dengan Tuhan terganggu karena dosa. Hubungan ini hanya bisa diperbaiki jika kedua belah pihak terlibat. Kita percaya Tuhan itu sungguh pengampun. Karena Tuhan begitu menghargai kebebasan manusia, Ia tidak mau memaksakan pengampunan atau keselamatan. Ia hanya bisa menawarkan keselamatan kepada manusia. Dengan demikian kita manusia perlu bertobat supaya Tuhan bisa mengampuni kita. Tobat kita mengungkapkan keinginan kita untuk diampuni oleh Tuhan, kemauan kita untuk menerima tawaran keselamatan dari Tuhan. Tuhan sudah siap sedia mengampuni kita dan selalu menunggu kita mengatakan ya. Kita tinggal mengatakan ya, Tuhan melimpahkan segala yang kita butuhkan, lebih dari yang kita pikirkan.
Hanya satu hal yang perlu kita ingat bahwa Gereja Katolik itu mengimani Yesus Kristus Sang Putra yang menjadi manusia. Peristiwa di mana Tuhan menjadi manusia disebut inkarnasi. Konsekuensi dari inkarnasi ini bagi kita sungguh berat. Kemanusiaan kita amat berharga di hadapan Tuhan. Tubuh kita dengan indra dan perasaannya bukan hal yang sepeleh di mata Tuhan. Komunikasi kita dengan Tuhan harus melibatkan seluruh kemanusiaan kita termasuk tubuh kita. Dengan demikian tobat kita harus melibatkan tubuh kita.
Bagaimana kita mengungkapkan tobat dengan tubuh kita? Gereja Katolik memberikan beberapa sarana antara lain: doa, puasa-pantang, dan amal. Yang lebih utama lagi adalah mengakukan dosa kita dan menerima pengampunan dari Tuhan lewat Sakramen Tobat. Jadi masa pra-paskah adalah masa di mana kita secara nyata bertobat atas dosa-dosa kita dan juga secara nyata menerima pengampunan dari Tuhan lewat Sakramen Tobat (sering juga disebut Sakramen Pengakuan Dosa, Sakrament Rekonsiliasi, atau Sakramen Pengampunan Dosa). Sedangkan doa, puasa-pantang, dan amal membantu kita bertobat.
Secara konkrit, apa yang mesti kita lakukan selama masa pra-paskah ini?
1] Kita wajib berpuasa dan berpantang selama hari Rabu Abu (13 Februari 2013) dan Jumat Agung (29 Maret 2013). Berpuasa berarti mengurangi porsi makanan dan berpantang berarti tidak makan daging termasuk ikan. Setiap hari Jumat kita wajib berpantang, tidak makan daging sebagai kenangan akan kematian Yesus Kristus. Kita boleh berpuasa dan berpantang di luar hari yang ditentukan oleh Gereja. Tapi ingat pada hari Minggu, jangan berpuasa dan berpantang, karena hari Minggu selalu hari gembira akan kebangkitan Kristus.
2] Berdoa lebih sering dan lebih lama. Bagi yang berkeluarga, mengajar dan mengajak anak-anak berdoa bersama misalnya doa rosario. Bagi yang bujangan, mengapa tidak mendoakan satu mazmur setiap hari? Ikut Jalan Salib setiap hari Jumat. Bagi para suster, bruder dan imam, doakanlah IBADAT HARIAN (brevir) lebih setia dan semua waktu (ibadat bacaan, ibadat pagi dan sore, ibadat siang, dan ibadat malam).
3] Membaca Kitab Suci. Jika terlalu sibuk, baca Injil Yohanes satu bab satu hari. Kalau banyak waktu, bacalah kitab-kitab para nabi (Yeremia, Ratapan,Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi, dan Barikh), karena berisi ajakan untuk bertobat. Mulailah dengan kitab yang singkat. Ini membutuhkan 3-4 bab setiap hari.
4] Lakukan perbuatan amal: mengisi amplop APP (aksi puasa pembangunan) dari keuskupan.
5] Menerima Sakramen Tobat/Pengampunan.
Lakukanlah hal-hal yang kecil yang menyatakan tobat kita supaya pada hari Paska, hari kebangkitan Tuhan, kita sungguh menjadi manusia baru, bangkit bersama Kristus. Amin.
MENDOAKAN MEREKA YANG SUDAH MENINGGAL
Saya selalu mendoakan mereka yang saya cintai – orang tua, saudara-saudari, nenek-kakek, kemenakan, om-tante, sepupu, ipar dan anggota keluarga lainnya, para konfrater, teman-teman, donatur, pemimpin, pastor, karyawan ... – dan juga yang saya kenal baik. Demikian juga kalau mereka meninggal dunia. Saya percaya bahwa cinta itu melampaui kematian. Kematian itu tidak mempunyai kekuatan atas cinta saya kepada mereka yang sudah meninggal.
Mencintai orang yang sudah meninggal itu bagian dari hidup manusia. Kita tidak hanya mencintai orang yang masih hidup tetapi juga mereka yang sudah meninggal. Cinta kita tidak berhenti karena kematian. Buktinya adalah kita menguburkan mereka dengan baik, kita hadir pada saat penguburan mereka, kita menyimpan foto dan barang mereka sebagai kenangan akan mereka, kita membicarakan mereka dengan baik, kita mengingat ajaran dan petuah mereka, kita mengenang kebaikan mereka, kita menjalankan wasiat mereka, kita membersihkan kuburan mereka dan masih banyak lagi. Bukit yang lebih utama adalah mendoakan mereka supaya Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka. Jadi mendoakan mereka yang sudah meninggal adalah ungkapan cinta kita kepada mereka.
Gereja Katolik mengerti dan merangkul keinginan manusia untuk tetap mencintai sesamanya meskipun sudah meninggal. Ini hendak juga mengatakan bahwa cinta itu kekal.
Katekismus Katolik no 1032 mengajarkan bahwa kita Gereja Katolik mendoakan mereka yang sudah meninggal. Ini berdasarkan Kitab Suci: “Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya" (2 Mak 12:45). Lebih lanjut Katekismus no 1032 mengatakan bahwa “sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi [bdk DS 856] untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.”
Seorang Bapa Gereja mengatakan:
“Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya [bdk Ayub 1:5], bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka” (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).
Mungkin ada yang menyatakan bahwa mereka dilarang oleh agama atau sekte mereka seperti kaum Protestan untuk mendoakan orang meninggal, tetapi di hati lubuk atau dalam doa pribadi, mereka berharap supaya Tuhan menyelamatkan orang-orang yang mereka cintai yang telah meninggal dunia. Adalah kerinduan manusia untuk tetap mencinta dan kematian tidak mempunyai kuasa atas cinta itu. Berharap saja sudah merupakan doa. Orang-orang Katolik tidak perlu menyembunyikan harapannya di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan tahu apa yang ada di lubuk hati kita.
Lebih lanjut lagi, kita percaya bahwa Gereja itu tidak hanya menyangkut orang-orang yang hidup di dunia ini. Gereja itu terdiri atas orang hidup dan mati. Gereja sebagai Tubuh Kristus merangkul para kudus (gereja jaya), mereka yang masih menderita dalam api pencucian (gereja menderita) dan kita yang hidup di dunia ini (gereja pesiarah). Orang mati yang kita cintai tentunya tidak luput dari dosa sehingga mereka perlu dibersihkan. Mereka membutuhkan doa-doa kita supaya Tuhan berbelaskasih kepada mereka.
Memikirkan bapak, kakak atau teman yang sudah meninggal, bagaimana mungkin saya tidak akan berdoa bagi bapak saya yang telah meninggal yang telah memungkinkan saya lahir ke dalam dunia ini, yang telah membesarkan dan mendidik saya, yang telah memberi saya makan dan pakaian, yang telah mencintai saya? Bagaimana mungkin saya akan melupakan dalam doa saudara saya yang telah berbagi kegembiraan bersama saya? Bagaimana mungkin saya tidak akan berdoa bagi teman saya yang telah begitu baik kepada saya? Saya sungguh beruntung beragama Katolik, karena dalam Gereja Katolik-lah kerinduanku ini terungkap. Lebih lagi, saya tidak sendirian, saya bersama umat lainnya berdoa untuk mereka yang saya cintai.
Sesuatu yang sungguh indah dalam hidup setiap orang Katolik karena kita tidak sendirian mendoakan mereka yang kita cintai – baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal – tetapi bersama umat lainnya, dan lebih penting lagi bersama para kudus. Saya semakin mencintai Bunda Maria, karena saya percaya ia selalu mendoakan kita. Bukankah setiap kali kita mendoakan Salam Maria kita mengatakan: “Doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”
Dalam perayaan Ekaristi, sesudah doa konsekrasi, imam atas nama Gereja melanjutkan doanya demikian: “Ingatlah akan saudara-saudari kami yang telah meninggal dunia dengan harapan akan bangkit kembali; terimalah mereka dan semua yang telah meninggal ke dalam kehadiran-Mu.” Setiap kali saya pimpin misa, pada saat mendoakan bagian ini, saya hening sejenak memikirkan bapak dan kakak saya. Kadang kala saya juga menambahkan orang lain.
Tidak hanya itu, setiap sore Gereja lewat para imam dan umatnya mendoakan mereka yang sudah meninggal. Dalam Ibadat Sore, saya selalu mendoakan anggota keluarga saya yang sudah meninggal. Dalam Ibadat Sore, komunitas mendoakan para anggota kongregasi kami yang sudah meninggal terutama yang hari meninggalnya jatuh pada saat itu.
Sebagai orang Katolik, kita percaya dan yakin akan keselamatan kita. Kita berada dalam Gereja yang membimbing kita ke jalan yang benar, kita mengakui Yesus Kristus yang adalah penyelamat satu-satunya dari Bapa kita di surga, dan kita menaati perintah Tuhan untuk mencintai sesama. Selain Gereja Katolik, tidak ada agama, gereja atau sekte yang bisa memberikan jaminan yang pasti. Yang lain itu hanya memberikan ‘kemungkinan’ bisa selamat.
Tuhanlah yang menyelamatkan. Tetapi keselamatan juga tergantung atas manusia. Kalau manusia menolak, Tuhan tidak memaksa. Kalau seseorang tidak mau masuk surga, lantas Tuhan memaksa dia masuk surga, ia tidak akan bahagia di sana. Tidak ada orang yang mau masuk neraka kecuali setan. Maka dari itu setan selalu berusaha supaya banyak orang masuk neraka. Bagaimana setan memperdaya manusia?
1)   Setan berusaha meyakinkan manusia bahwa Tuhan itu tidak ada atau meyakinkan manusia bahwa setan itu tidak ada.
2)   Setan berusaha meyakinkan manusia untuk meninggalkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya penyelamat.
3)   Karena setan tahu bahwa Gereja Katolik itu mengajarkan kebenaran, setan berusaha meyakinkan manusia bahwa tidak perlu menjadi umat Gereja Katolik untuk selamat.
4)   Setan berusaha meyakinkan manusia bahwa tidak ada gunanya mendoakan orang yang sudah meninggal, dengan demikian mereka yang meninggal tidak memperoleh belaskasih atau kerahiman dari Tuhan.
5)   Setan meyakinkan manusia bahwa kita bisa langsung memohon pengampunan kepada Tuhan tanpa lewat sakramen pengakuan dosa. Setan tahu manusia akan menyombongkan diri bahwa ia sudah diampuni tetapi siapa yang mengatakan bahwa ia sudah diampuni? Orang yang mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia sudah diampuni menipu dirinya sendiri. Ibarat orang yang melakukan kesalahan, lantas membayangkan dalam pikirannya bahwa ia sudah minta maaf dan dimaafkan.
6)   Setan meyakinkan manusia untuk mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk menjatuhkan orang lain bahkan melakukan kekerasan terhadap orang lain. Setan sendiri telah melakukannya terhadap Yesus. Itulah beberapa pekerjaan setan dan pengikut-pengikutnya.
Sebagai pastor, saya banyak kali dipanggil untuk merayakan misa bagi orang mati. Lewat pelayanan ini saya merenungkan banyak dan mendalam akan kematian dan janji-janji Tuhan kepada manusia. Keindahan dan kebenaran iman Gereja Katolik semakin nampak. Kerahiman Tuhan semakin terasa. Iman saya akan kebangkitan dikuatkan. Campur tangan Tuhan dalam hidup saya semakin nyata.
Setiap kali menyalakan lilin paskah, saya mengatakan: Saudara, terimalah lilin paskah ini yang melambangkan Kristus sebagai cahaya yang akan menuntun saudara kepada Bapa.
Setiap kali mendupai yang meninggal, saya berdoa: Tuhan semoga amal bakti saudara kami harum membumbung tinggi di hadapanmu seperti dupa ini.
Setiap kali memerciki yang meninggal dengan air suci, saya berdoa: Tuhan ingatlah saudara kami yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dengan baptisan, saudara kami telah mati bersama Kristus dan semoga kita ia bangkit bersama Kristus pula.
Sebelum perayaan Ekaristi, saya mengingatkan umat: Semoga saudara kita dibangkitan sama seperti Tubuh Kristus yang ia telah terima selama hidupnya. Kita pun berharap dibangkitkan bersama Kristus.

Perkawinan: ikut ambil bagian dalam karya Tuhan

Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, terutama kepada kedua mempelai beserta keluarga yang berbahagia.

Sebuah perkawinan bukan hanya urusan antara dua orang saja, bukan saja urusan dua keluarga besar, bahkan bukan saja urusan manusia, tetapi juga urusan Tuhan. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa Tuhan selalu menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Tuhan sudah memberikan tanda-tanda yang nyata yaitu sakramen-sakramen yang menyatakan bahwa Tuhan tetap hadir dan berperan dalam hidup kita, terutama di saat-saat yang penting. Mulai dari kelahiran sampai kepada kematian termasuk perkawinan, Tuhan hadir lewat pelayanan Gereja.

Hari ini hari yang istimewa meskipun mungkin sedikit menengangkan bagi kedua mempelai, hari ini tetaplah istimewa bagi mereka. Hari ini akan selalu dikenangkan di hari-hari yang akan datang entah itu sebagai berkat maupun awal dari kemalangan karena tiba-tiba menyadari salah seorang merasa salah pilih. Kita berdoa semoga hari ini menjadi sungguh berkat bagi mereka.

Istimewa karena kita mengamini apa yang kita percaya bahwa Allah yang adalah cinta dan telah menciptakan manusia untuk cinta, telah memanggilnya untuk mencinta. Dengan menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta di antara mereka dalam perkawinan. ‘Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu’ (Mat 19,6). Allah bersabda dan memberkati mereka, ‘Beranak-cuculah dan bertambah banyak’ (Kej 1,28).

Setiap kali Tuhan melakukan sesuatu bagi kita, Ia meninggalkan kepribadian-Nya di dalam hidup kita dan Ia memampukan kita untuk bertindak sesuai dengan kepribadian-Nya itu. Seorang pelukis, ketika ia melukis tentunya ia meninggalkan kepribadiannya sekurang-kurangnya tanda tangannya dalam lukisan itu. Jika kita memberikan lukisan kepada seorang pengamat lukisan, ia akan mengenal kepribadian dari pelukisnya bahkan bisa memberitahu siapa pelukis tersebut. Itu dikarenakan seorang pelukis tidak hanya melukis tetapi saat ia melukis ia meninggalkan kepribadiannya pada lukisannya itu. Ia tidak hanya meninggalkan satu lukisan tetapi juga kepribadiannya yang ada dalam lukisan itu.

Tuhan adalah cinta. Cinta adalah kepribadian Tuhan. Ia mencintai kita. Dan ketika Ia mencintai kita, Tuhan meninggalkan kepribadian-Nya sebagai cinta dalam diri kita. Ia juga menanamkan benih-benih cinta di dalam diri kita. Ketika kita mencintai satu sama lain, itu bukanlah semata-mata karena perintah Tuhan, tetapi karena Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengambil bagian dalam kepribadian-Nya yang mana Dia itu adalah cinta. Ini seharusnya menjadi suka cita bagi kita semua, terutama bagi kedua mempelai. Kalian saling mencintai, kalian akan mencintai anak-anak kalian, dan juga mereka yang ada di sekitar kalian; itu karena Tuhan meninggalkan benih cinta dalam kehidupan kalian ketika Tuhan mencintai kalian. Bukankah suatu kebahagiaan tersendiri ketika kita tahu bahwa Tuhan membuat kita layak mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri?

Demikian juga dengan kesetian suami istri satu sama lain. Allah yang adalah setia tentunya meninggalkan benih-benih kesetian di dalam diri kita. Suami-istri yang setia satu sama lain karena Allah telah menanamkan kepribadian-Nya dalam diri mereka.

Mudah-mudahan Sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini membuat kita semakin mantap menghadapi hari-hari yang penuh tantangan, tidak sebagai beban tetapi sebagai kesempatan ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi. Jika kita sudah mulai belajar ambil bagian dalam kehidupan itu, tentunya kehidupan ilahi itulah yang akan menjadi tujuan hidup kita.
Amin. Semoga.