Misa dlm bhs Latin? Mengapa tdk.


Misa dalam bahasa Latin
Saya mengenal tiga bahasa asing. Saya mengambil waktu untuk itu, menguras tenaga, dan jumlah uang yang keluar tidak sedikit. Frustasi tidak terhitung. Akhirnya ya rasa bangga tentunya, meskipun masih melakukan kesalahan sana sini. Tetapi suatu hari saya mulai berpikir mengapa saya bersusah payah belajar bahasa asing, lantas bahasa Gereja, yaitu Latin, sedikit pun tidak berminat. Apalagi sebagai seorang imam. Malu dan mencoba mengambil tantangan ini. Saya mulai menghafal Signum sanctae crucis, Gloria Patri, Oratio dominica, dan Salutatio angelica. Ketika saya sudah hafal, saya doa rosario dalam Latin, kecuali “Aku Percaya”.
Menarik. Lantas Misa sendiri tanpa umat, saya pakai Latin untuk Gloria, Credo, Sanctus, Agnus Dei, kecuali Kyrie eleison (Yunani). Tentunya bagian-bagian ini mudah dimengerti karena saya sudah hafal bahasa Indonesianya.
Semakin menarik. Saya ingin Misa seluruhnya dalam Latin, karena kurang lebih saya hafal bagian-bagian ordinarinya dalam bahasa Indonesia. Ketika saya mencari Missale Romanum, saya jatuh pada Missale Romanum Editio Typica 1962. Loh, bukannya sudah tidak dipakai lagi? Atau hanya dipakai oleh sekelompok orang yang dicap traditionalist. Mulailah rasa ingin tahu seputar Misa Latin ini. Ternyata ada dokumen yang namanya Summorum Pontificum dari Paus Benediktus XVI (2007).
Jika saya ingin Misa seluruhnya dalam Latin, mengapa tidak sekalian mempersembahkan Misa yang masih dikenal oleh orang tuaku? Mereka sering menceritakan bahwa saya lahir ketika ada perubahan dalam berliturgi. Lantas kakak saya lahir ketika pastor masih membelakangi umat dalam Misa. (Maksud orang tua adalah ketika umat dan imam menghadap arah yang sama.) Ibu saya masih memakai “Kurban Misa” daripada “Perayaan Ekaristi.”
Boleh semangat, tetapi bagaimana menghadapi pekerjaan yang besar ini? Saya tahu baca Latin, tapi lebih banyak tidak mengerti. Mulai  menonton video Misa Latin yang ada di U-tube. Mulai bolak-balik Missale Romanum 1962. Struktur sepertinya saya kenal, karena kurang lebih sama dengan Missale Romanum 1970.
Sementara itu, Misa Forma Ordinari berjalan dengan Doa Syukur Agung 1 yang tidak lain tidak bukan adalah Canon Missae. Sesudah merasa nyaman dengan DSA 1 dalam Latin, saatnya pindah ke Misa Forma Ekstraordinari. Tahun liturgi 2014, hari minggu advent pertama (1 Des 2013) saya rayakan Misa Forma Ekstraordinari. Memakan waktu hampir satu setengah jam. Maklum saya perlu mengingat banyak hal yang harus dibuat. Jangan sampai Misa tidak sah. Pelan-pelan terbiasa, dan Misa yang terakhir saya persembahkan, waktunya menjadi singkat, sekitar 45 menit, tanpa homili tentunya.
Bagaimana dengan doa dan bacaan yang selalu berganti tiap hari Minggu? Sebelum Misa saya baca dulu terjemahannya, sehingga ketika merayakan Misa, saya tahu apa yang saya sedang baca.
Awalnya memang masih sibuk memikirkan apa yang harus dibuat selanjutnya. Tegang dan sering berhenti sejenak berpikir untuk memastikan apa yang selanjutnya. Tetapi pelan-pelan ada bagian yang menjadi otomatis, sehingga menjadi lebih tenang. Membuat Kurba Misa dalam bentuk ekstraordinaria membantu mengarahkan perhatian kepada Tuhan. Tidak ada kecendrungan untuk mengadakan pertunjukan. Canon atau DSA sungguh menjadi doa kepada Bapa, bukan sandiwara di hadapan umat. Ketika mengucapkan “Pada malam Ia diserahkan, sebelum menderita sengsara dengan rela, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, lalu membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada para murid seraya berkata: ... [dst]), DSA 2” ada kecendungan untuk melakonkan bagian ini, sampai-sampai ada imam yang memang memecahkan hosti saat konsekrasi lantas mengulurkan hosti itu ke sana ke mari seperti menawarkannya untuk diterima. Demikian juga dengan piala. Padahal ini adalah doa kepada Bapa.
Mempersembahkan Kurban Misa, baik forma ordinaria maupun extraordinaria, sebagaimana yang telah digariskan oleh rubrik, READ BLACK, DO RED, tentunya akan agung dan indah.
Sebagai imam, Kurban Misa, menjadi pusat hidupku. Melihat pengorbanan yang saya lakukan (seperti belajar bertahun-tahun), dan juga dukungan yang luar biasa dari umat (air mata dan keringat), saya menjadi sadar dan serius dengan Kurban Misa. Merayakannya dalam Latin salah satu contoh dari kesadaran dan keseriusan itu.

Inkulturasi yang Salah


Merenungkan Perdebatan Seputar Artikel:
“Inkulturasi yang Salah: Imam Merayakan Misa Kudus Tanpa Busana Liturgi yang Lengkap”

Penulis artikel ini, K. Sitohang, dengan niat yang baik, mengingatkan umat Katolik, terutama para imamnya, untuk berliturgi yang benar, yang sesuai dengan peraturan liturgi yang telah digariskan oleh Gereja. Penulis menilai bahwa tidak sedikit penyelewengan dalam berliturgi atas nama inkulturasi. Artikel itu tentunya menuai tanggapan yang positif and negatif.
Keprihatinan yang dipaparkan oleh penulis patut mendapat perhatian serius terutama dari para imam. Amat disayangkan justru beberapa imam menilai artikel tersebut secara negatif. Saya salut kepada penulis yang mengangkat keprihatinan para awam terhadap kesalahan dan penyelewengan yang dilakukan oleh para imam yang berhubungan Kurban Misa. Imam yang tidak peduli dengan keprihatinan umat dalam berliturgi, bahkan mempertanyakan jika si penulis adalah ahli liturgi, adalah imam yang ber-“bau klerikalis-triumfalis.” Artinya imam itu yang menjadi penguasa dalam liturgi. Padahal Gereja telah menggariskan sejumlah tatanan liturgi yang mengikat baik para imam maupun awam.
Mengatasnamakan inkulturasi untuk mengantikan, menghilangkan, menambah, atau mengubah bagian-bagian dalam liturgi termasuk pakaian adalah kesalahan fatal. Bisa-bisa apa yang sedang dilakukan bukanlah liturgi, tetapi ibadat bersama atau pertunjukan rohani.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kata inkulturasi langsung dikaitkan dengan liturgi. Inkulturasi akhirnya berarti memberi corak dan warna budaya lokal pada liturgi. Padahal inkulturasi tidak dimengerti demikian, bahkan salah dimengerti. Ada unsur pertobatan dalam inkulturasi. Iman harus menjadi ragi dalam budaya, harus mengubah hati manusia, sehingga muncul budaya yang baru. Kita yang harus berubah, bukan ajaran Gereja yang harus berubah. Inkulturasi membutuhkan kerja keras dan tidak gampang. Contohnya bagaimana kita membudayakan hari Minggu sebagai hari Tuhan, membudayakan hidup murni dalam masyarakat yang sudah terpengaruh dengan kebebasan sex, atau membudayakan hidup jujur dalam masyarakat yang sudah tidak tahu malu berkorupsi bahkan senang memakai baju KPK. Sulit dan membutuhkan kerja keras. Mungkin karena itu beberapa imam dan juga awam lebih suka mengutak-atik liturgi dari pada mengutak-atik suara hati sesama.
Ada mungkin yang berpendapat: liturgi terlalu berbau Roma atau Eropa, asing untuk orang Indonesia. Mengapa liturgi terlalu asing bagi kita, padahal teknologi yang datang dari luar kita tidak permasalahkan? Saya curiga bahwa usaha untuk mengutak-atik liturgi atas nama inkulturasi adalah satu tanda ketidaktaatan, tanda pemberontakan. Bisa juga menjadi tanda kebodohan dan tanda main kuasa.
Ada lagi kesalahan dalam usaha memberi warna dan corak lokal pada liturgi yaitu pertanyaan tentang budaya lokal siapa yang menjadi rujukan? Ada dua hal yang perlu diketahui bahwa budaya itu berubah dan manusia itu semakin berbaur karena migrasi. Saya pernah melihat Misa gaya Jawa (pakaian, musik dan lagu), imamnya orang Batak, umat campuran dari berbagai etnis. Kita memperlakukan tidak adil satu sama lain. Mengapa kita mempersoalkan pakaian Misa yang sudah ditetapkan Gereja, tetapi kita dengan senang hati memakai jeans yang awalnya berasal dari luar misalnya?
Sekiranya Yesus lahir di Indonesia? Inilah pertanyaan yang disukai oleh mereka yang suka bereksperimen dalam liturgi. Mari kita membuatnya lebih menarik, bagaimana sekiranya Yesus lahir di Papua? Mungkin kita langsung berpikir untuk memakai koteka. Atau memakai ubi dan arak? Tetapi lebih dari pada itu. TIDAK ADA YANG NAMANYA KURBAN MISA SEKIRANYA YESUS LAHIR di Indonesia atau Papua. Kurban Misa semuanya berkaitan dengan hidup Yesus di Palestina/Israel sana, berkaitan dengan Paskah orang Israel, berkaitan dengan penyaliban Yesus. Sejarah Indonesia atau budaya Papua tidak mengenal unsur-unsur tersebut. Sekiranya Yesus lahir di Indonesia atau Papua mungkin akan ada ibadat, perayaan, upacara atau pertemuan yang amat berbeda dengan liturgi kita sekarang ini. Dan tentunya namanya bukan Kurban Misa. Jadi liturgi bukan sekedar cut and paste (terjemahan melantur: tambal sana sini), tetapi menyangkut seseorang yaitu TUHAN YESUS KRISTUS.
Litugi diberikan oleh Tuhan lewat Gereja, dengan sendirinya kita melakukannya sesuai dengan aturan Gereja. Litugi bukanlah milik kita. Kita tidak berhak mengutak-atiknya atas nama apapun dan siapapun. Kita mempunyai pemimpin yang berkuasa untuk itu, yaitu paus sebagai wakil Kristus.
Misa Kudus bukalah tempat bermain-main. Kita datang ke Misa bukan untuk menunjukkan atau menonton kehebatan kita dalam berinkulturasi. Kita datang ke Misa untuk menyembah Tuhan, untuk diselamatkan.
Lex Orandi, Lex Credendi (terjemahan bebas: liturgi membentuk iman) ditambah dengan READ BLACK, DO RED (baca yang tertulis hitam, lakukan yang tertulis merah) adalah dua axiom yang membantu kita untuk berliturgi dengan benar dan tentunya beriman yang benar.
Tuhan memberkati.

Merelakan Segalanya Demi Tuhan



Merelakan Segalanya Demi Tuhan
Seorang rahib mengatakan:
Saya bebas memilih Tuhan, selebihnya adalah ketaatan.
Perkataaan seperti ini semakin menantang saya untuk memikirkan lebih mendalam panggilan saya sebagai imam biarawan. Ada banyak hal yang saya sukai, yang saya inginkan, perlu saya relakan demi Tuhan. Merelakan segala-galanya bukan sekedar mengosongkan diri tetapi supaya dalam hidup saya semakin ada tempat bagi. Menjadi biarawan sekaligus imam tidak lain tidak bukan hidup demi Tuhan.
Menjadi pendoa adalah ungkapan nyata dari hidup demi Tuhan. Seorang imam dan biarawan diharapkan menjadi pendoa. Hidup selibat, miskin dan taat sungguh membantu seseorang untuk menjadi pendoa. Saya masih jatuh bangun merelakan segala-galanya demi Tuhan. Sejauh ini cara yang terbaik untuk mampu merelakan sesuatu adalah setia dalam hidup doa. Sebagai imam, saya berusaha setia melakukan Ibadat Harian yang diwajibkan oleh Gereja dan merayakan/ikut Kurban Misa setiap hari.
Untuk dapat merayakan Ekaristi dan komuni, saya perlu bebas dari dosa berat. Mulailah kelihatan satu persatu hal-hal yang perlu ditinggalkan. Maju mundur. Saya perlu menahan diri dari percakapan atau cerita cabul. Saya perlu waspada terhadap film-film erotik dan menghindarinya. Saya perlu mengontrol hawa nafsu dan pikiran cabul yang muncul. Sulit karena di mana-mana sex dipublikasi. Kita bisa mengatakan “jangan dilihat” atau “pikiranmu yang cabul”. Kalau saya mengeluh tentang polusi udara, mungkin saya akan dinasehati untuk “tidak bernafas.” Kesulitan-kesulitan seperti ini tidak menjadi alasan untuk tidak meninggalkan pikiran-pikiran dan keinginan cabul. Kesulitan yang kita hadapi tidak bisa dipakai untuk membenarkan diri, untuk tinggal dalam dosa. Selain berusaha mengontrol diri, hawa nafsu, saya perlu mengaku dosa secara teratur. Minimal sekali sebulan. Saya tidak mampu bergulat sendiri. Belaskasih Tuhan, kerahiman Tuhan, pengampunan dari Tuhan menguatkan saya untuk tetap setia dalam panggilan saya.
Akhirnya, saya melihat bahwa semakin setia dalam hidup doa, semakin kuat alasan untuk meninggalkan segala-galanya demi Tuhan. Saya berharap pada hari kematianku dengan senang hati berdoa seperti Simeon:
Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu pergi menurut sabda-Mu,
Karena aku telah melihat keselamatan dari pada-Mu,
yang Engkau telah siapkan di hadapan segala bangsa.
(cfr Lukas 2,29-32).
Doa ini adalah bagian dari Doa Malam (completorium) yang tentunya selalu saya doakan setiap malam.
Demi Tuhan, yang lainnya relatif.

Tuhan memberikan Diri-Nya sendiri



Tuhan memberikan Diri-Nya sendiri
“Katolik adalah agama sakramental, dan praktek Katolik didasarkan pada prinsip sakramental. Yang saya maksudkan dengan prinsip sakramental adalah bahwa Allah menggunakan benda-benda biasa seperti air, minyak, roti, dan anggur sebagai sarana untuk mengkomunikasi diri-Nya kepada kita. Komunikasi ini bukan terutama secara intelektual atau dengan kata-kata, melainkan dengan memberi, dalam kasih, dirinya sendiri, yaitu, Allah, kepada yang lain, yaitu, kepada umat-Nya. Maka dari itu dalam sakramen, kita berhadapan, tidak semata-mata dengan penyampaian pesan melalui kata-kata, tetapi dengan kasih Allah yang memberikan diri-Nya kepada kita, dan Ia memberikan diri-Nya kepada kita supaya kita dapat menjadi lebih seperti Dia. Kristus datang untuk ambil bagian dalam kemanusiaan kita sehingga setiap orang bisa mengambil bagian dalam keilahian-Nya.”

[Catholicism is a sacramental religion, and the practice of Catholicism is based on the sacramental principle. By the sacramental principle, I mean the Catholic teaching that God uses ordinary material things such as water, oil, bread, and wine as a means for communicating himself to us. This communicating is not primarily intellectual or verbal; rather, it is a giving, in love, by one person of himself, that is, God, to other persons, that is, to his people. In the sacraments, then, we are dealing, not merely with the speaking of a message through words, but with the God of love giving himself to us, and he gives himself to us so that we can become more like him. Christ came to share in our humanity so that every one of us could become partakers of his divinity. (J. Robinson, The Mass and Modernity, p. 93.)]

Kemarin sore (30 Agustus 2013) dalam Misa, tiba-tiba saya mengerti perkataan ini (kalimat yang diwarnai kuning di atas): Tuhan menggunakan anggur dan roti untuk menyatakan diri-Nya sendiri kepada manusia. Itu berarti bahwa Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur adalah cara Tuhan menyelamatkan kita. Ketika kita menyantap Tubuh dan Darah Kristus, kita diselamatkan. Kita bisa merenungkan lebih dalam bahwa keselamatan itu adalah sungguh pemberian dari Tuhan. Keselamatan itu nyata, bukan hanya ide atau angan-angan di kepala atau pikiran. Tetapi sesuatu yang kita sudah dapat cicipi sekarang di dunia ini dan tentunya akan disempurnakan di dunia akhirat. Seperti pemazmur mengatakan: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” (Mz 34:8).
Dalam Gereja Katolik ada dua sakramen yang kita terima berulang kali untuk merasakan dan mengalami keselamatan dari Tuhan. Kedua sakrament itu adalah Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Apakah yang menunggu kita di dunia akhirat? Bukankah Perjamuan Anak Domba Allah? Bukankah Kerahiman Tuhan? Keduanya sudah kita cicipi di dunia ini dalam sakramen Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Alkitab berulang kali menerangkan keselamatan itu terwujud dalam pengampunan dosa dan perjamuan. Kita ingat perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32), cerita tentang Zakheus (Luk 19:1-10), cerita tentang Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (Luk 7:36-50). Dalam perikop-perikop ini pengampunan dosa dan perjamuan terjadi bersamaan. Tentunya dalam bagian lain dari Alkitab kita masih bisa menemukan perjamuan dan pengampunan yang merupakan wujud nyata dari keselamatan.
Keselamatan itu diberikan bukan diusahakan, diucapkan, dipikirkan. Yesus bersabda: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Tuhan memberikan diri-Nya untuk kita makan dan minum supaya kita selamat. “Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Ambillah, inilah tubuh-Ku.’ Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka: ‘Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:22-24).
Kalau Tuhan sudah menyediakan dan memberikan keselamatan dengan mudah, mengapa kita menyusahkan diri dengan berusaha menyelamatkan diri sendiri? Mengapa kita membuang tenaga dan waktu untuk meyakinkan diri dan berpikir bahwa Tuhan sudah mengampuni kita? Sambutlah Tubuh Kristus dan terimalah Sakramen Pengampunan sesering mungkin. Ini cara Tuhan memberikan keselamatan kepada manusia. Tetapi banyak yang menolak dan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kadang kala kita menipu diri dengan mengatakan bahwa banyak melakukan perbuatan baik adalah cukup dan Tuhan tentunya akan mempertimbangkan akan hal itu. Memang Tuhan akan mempertimbangkan perbuatan baik kita pada hari penghakiman (Mat 25:31-46), tetapi sejauh mana kita yakin bahwa kita selalu setia melakukan yang baik? Memang perbuatan baik bisa menghapus dosa (Sir 3:30, Tob 4:10), tetapi sejauh mana kita yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan bisa menutupi semua dosa kita? Lebih baik kita bergantung pada kerahiman Tuhan dari pada keadilan manusia. Kita bergantung pada keadilan manusia ketika kita berusaha berbuat baik untuk mengimbangi dosa-dosa kita. Tetapi jika kita datang kepada Tuhan seperti orang yang memohon dibebaskan dari utang yang banyak, saat itu kita bergantung pada kerahiman Tuhan.
Lantas mungkin kita berpikir kalau begitu cukup kita rajin pergi misa dan mengaku dosa. Ini juga menipu diri. Orang-orang yang mengatakan seperti ini adalah mereka yang jarang pergi gereja dan tidak berani pergi mengaku dosa. Mereka yang rajin komuni dan mengaku dosa adalah juga mereka yang rajin berbuat kebaikan. Semakin banyak kita menerima kebaikan Tuhan (Sakrament Ekaristi) dan semakin kita menerima kerahiman Tuhan (Sakramen Tobat), kita akan semakin penuh dengan suka cita untuk berbuat kebaikan. Kita ingat cerita tentang Zakheus dan perempuan berdosa yang mengurapi Yesus. Mereka melakukan kebaikan dengan sukacita karena kerahiman Tuhan yang mereka terima saat itu bukan yang akan mereka terima.
Dan yang terakhir: jika demikian, kita berbuat dosa sebanyak-banyaknya dan seberat-beratnya karena Tuhan akan mengampuni kita dalam Sakramen Tobat. Jawaban saya: silahkan, tetapi ingat: Tuhan menjemput kita seperti pencuri. Banyak yang meninggal saat mereka melakukan dosa dan kejahatan. Tuhan dalam Alkitab mengatakan kepada kita untuk selalu berjaga-jaga. Sedapat mungkin kita meninggal dalam keadaan berahmat, dalam kerahiman Tuhan. Ketika kita sakit keras atau dalam bahaya maut mengapa kita tidak memanggil pastor untuk mengaku dosa dan menerima komuni?
Kembali kepada Tubuh dan Darah Kristus. Banyak dari antara kita yang tidak hormat kepada Tubuh Kristus saat menerima komuni. Tuhan sendirilah yang kita terima. Jika kita tidak percaya itu, lebih jangan kita pergi komuni. Gereja melarang kita menerima komuni jika kita dalam keadaan berdosa berat. Kita harus mengakukan dosa berat kita sebelum komuni. Dalam tradisi Gereja, sikap yang wajar saat menyambut komuni adalah berlutut dan komuni diberikan di lidah. Mengapa tidak memakai pakaian yang terbaik saat pergi Misa? Hal-hal kecil seperti ini membantu kita percaya dan mengalami secara nyata keselamatan yang diberikan Tuhan yaitu Tubuh-Nya sendiri.

Pengalaman akan Ibadat Harian



Pengalaman akan Ibadat Harian
Mungkin banyak, termasuk para imam, yang bertanya bagaimana seorang pastor menjalankan Ibadat Harian yang diwajibkan oleh Gereja kepada para imamnya. Ibadat Harian (Brevir) terdiri atas 7 bagian:
1) Ibadat Bacaan
2) Ibadat Pagi
3) Ibadat Siang (Tertia, Sexta, Nona)
4) Ibadat Sore
5) Ibadat Malam
Ibadat Siang terdiri atas 3 bagian dan Gereja mewajibkan mendoakan salah satu, tetapi ada biarawan-biarawati yang wajib mendoakan ketiga-tiganya.
Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk setia mendoakan Ibadat Harian itu. Pada saat tahbisan diakon, saya di hadapan uskup berjanji untuk menjalankan dengan setia Ibadat Harian yang adalah ibadat liturgis Gereja. Namun tidak selalu mudah memenuhi apa yang saya telah janjikan di hadapan bapak uskup. Tiga bulan sesudah tahbisan diakon, saya masih semangat untuk mendoakan Ibadat Pagi dan Ibadat Sore. Tetapi pelan-pelan tinggal Ibadat Sore, karena selain malas, saya beranggapan bahwa Misa di pagi hari sudah cukup dan tidak perlu lagi Ibadat Pagi. Waktu itu saya tidak pernah memikirkan untuk melakukan Ibadat Bacaan dan Ibadat Siang. Kadang kala saya menjalankan Ibadat Malam, kalau tidak terlalu capek, sebelum pergi tidur. Saya tidak menjalankan Ibadat Bacaan karena saya menganggap sudah digantikan oleh bacaan Kitab Suci yang sering saya lakukan. Ibadat Siang pernah saya teratur lakukan ketika masih ada di Paris, karena sebelum makan siang, kami bersama-sama melakukannya. Jadi berkat komunitas, saya menjalankannya. Sejak tinggalkan Paris, saya tidak pernah lagi menjalankan Ibadat Siang.
Kedatangan saya kedua kalinya di Roma, ada perubahan besar dalam menjalankan Ibadat Harian. Saya bertobat dan pelan-pelan melakukan kewajiban saya yang satu ini: mendoakan Ibadat Harian. Awalnya saya berpikir, Ibadat Harian dengan 5 bagian itu akan menyita waktu studi saya. Tetapi dalam proses permenungan saya di hadapan Sakramen Mahakudus, terpikirkan bahwa biarlah saya gagal dalam studi tetapi saya tidak mau gagal dalam menjalankan kewajibanku yang satu ini. Sebagai catatan sampingan, meskipun waktu untuk berdoa semakin bertambah, tetapi ternyata hasil studi (nilai) cukup memuaskan.
Menjalankan Ibadat Harian tidak selalu berjalan mulus. Kecendrungan yang ada adalah tawar-menawar. Saya pergi mencari alasan yang bisa membebaskan saya untuk tidak mendoakan seluruh bagian Ibadat Harian itu. Tetapi saya tidak menemukan satu alasan pun, kecuali dengan alasan sakit. Tetapi sepertinya sehat terus. Saya akhirnya berhenti mencari alasan untuk tidak berdoa dan mulai memupuk sikap positif terhadap Ibadat Harian itu. Selain kewajiban, saya patut bersyukur karena Gereja telah memberikan sarana kepada kita untuk berdoa senantiasa kepada Bapa lewat PutraNya Yesus Kristus. Ibadat Harian adalah juga rahmat bagi para imam untuk selalu menjalin hubungan dengan Tuhan. Ini menjadi salah satu alasan untuk melakukan Ibadat Harian dengan setia, selain tanggung jawab di hadapan Tuhan dan sesama (Gereja).
Yang cukup mudah adalah Ibadat Pagi, Ibadat Sore dan Ibadat Malam. Karena komunitas mendoakan Ibadat Sore bersama, saya terbantu dan terikat untuk melakukan ibadat Sore. Ibadat Malam tidak terlalu sulit karena selain pengalaman sebelumnya, ibadat ini singkat, sekitar 7 menit. Ibadat Malam saya lakukan sebelum pergi tidur. Untuk dapat melakukan Ibadat Pagi dengan teratur, saya hadir lebih awal sebelum Misa, sehingga saya terbiasa dan setia dengan Ibadat Pagi. Lantas Ibadat Siang yang sebenarnya juga singkat sekitar 10 menit, saya melakukannya di kamar sebelum makan siang. Ibadat Siang ini kadang kala saya lupa karena terlalu sibuk di depan komputer, hingga ketika tiba jam makan, saya hanya berpikir untuk melakukannya sesudah makan, tetapi sesudah makan tidak ingat Tuhan lagi.
Ibadat Bacaanlah yang jatuh bangun. Saya mencari-cari waktu yang tepat untuk melakukannya. Karena masih mencoba-coba, akhirnya sering lupa. Ibadat Bacaan, kebanyakan saya satukan dengan Ibadat Sore. Sebelum bergabung dengan komunitas, saya melakukan Ibadat Bacaan. Tetapi kadangkala saya terbatas dengan waktu sehingga saya harus membaca salah satu bacaaan yang tersedia di lain waktu. Ibadat Bacaan ini lebih lama karena ada 3 mazmur dan 2 bacaan yang cukup panjang (satu dari Kitab Suci dan yang lainnya dari tulisan [pujangga] Gereja). Lama baru Ibadat Bacaan ini menjadi kebiasaan saya.
Jadi, hingga saat ini setelah melewati proses “trial and error” (istilah Indonesianya: jatuh bangun), kurang lebih Ibadat Harian saya lakukan demikian. Pada weekdays (Senin hingga Jumat) Ibadat Bacaan saya lakukan sekitar jam 6 sore sebelum Ibadat Sore dengan komunitas. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, karena lebih sering saya misa sendirian, saya melakukan Ibadat Bacaan sesudah Misa. Lantas Ibadat Pagi menjadi kegiatan awal harian saya. Sedangkan Ibadat Siang saya bersiteguh untuk melakukannya sebelum makan siang, meskipun harus terlambat untuk makan, supaya jangan lupa ketika perut sudah kenyang. Ibadat Sore bersama dengan komunitas dan sebelum tidur saya melakukan Ibadat Malam. Dalam Ibadat Malam ini ada bagian pemeriksaan batin dan juga doa memasrahkan diri kepada Tuhan.
Apa yang dulu saya kuatirkan bahwa Ibadat Harian akan mengganggu jadwal studi saya, ternyata tidak benar. Justru waktu di depan internetlah yang mengambil banyak waktu studi saya. Untuk setia melakukan Ibadat Harian ini, tentunya saya tidak tergantung banyak pada usaha saya. Saya selalu mohon bimbingan Roh Kudus untuk membantu, menguatkan, menyemangati saya supaya tetap setia entah dalam masa kering maupun ketika lagi in mood.
“Roh Kudus bantulah aku untuk setia melakukan Ibadat Harian yang diberikan oleh Gereja-Mu yang kudus. Amin.”