Kerahiman Tuhan (1)

            Kerahiman Tuhan adalah salah satu tema yang patut kita renungkan selama masa Prapaskah ini. Sejak saya masuk CICM, tema tentang kerahiman Tuhan ini lebih banyak saya renungkan. Tentunya lebih dari sekedar merenungkannya, saya juga semakin merasakan kerahiman Tuhan itu dalam hidup saya.
            Kata ‘rahim’ mempunyai beberapa arti. Bukanlah sesuatu yang kebetulan jika kata rahim bisa merujuk pada kandungan ibu dan juga pada belas kasih. Kandungan ibu dan belas kasih berkaitan satu sama lain. Untuk mengerti baik kata ‘rahim’ dalam arti belas kasih itu kita selayaknyalah menghubungkannya dengan kandungan ibu yang juga adalah arti dari kata ‘rahim’ itu. Belas kasih ibu bisa merangkum hubungan itu.
            Seorang ibu mulai dari masa kehamilan sampai pada kematian akan selalu mengasihi anak-anaknya. Ia akan selalu berusaha dari kekurangan dan keterbatasannya membahagiakan anak-anaknya itu. Belas kasih ibu atau orang tua (bapak dan ibu) akan nampak semakin nyata ketika mereka tetap menyayangi anaknya yang nakal, kurang ajar, atau jahat. Tentu saja orang tua sedih jika anaknya berkelakuan tidak baik tetapi mereka tidak sampai hati mengingkari anak mereka itu. Malah mereka semakin mencintainya. Orang tua tentunya mencintai semua anak-anak mereka, tetapi ada saja anak yang lebih diperhatikan, lebih disayangi. Biasanya yang lebih diperhatikan itu adalah anak yang sakit-sakitan, yang jelek, atau yang nakal. Orang tua akan mengupayakan apa saja untuk anak mereka yang nakal itu supaya anaknya tetap bahagia dan tetap merasa disayangi.
            Kerahiman Tuhan lebih daripada belas kasih ibu atau orang tua. Tidak mungkin seorang ibu tidak akan menyayangi anak dari kandungannya, tetapi sekiranya itu mungkin, Tuhan tidak akan melupakan manusia (bdk Yes 49,15). Kasih sayang orang tua itu jauh lebih besar dari kelakuan buruk anak-anak mereka. Demikian juga Tuhan. Kerahiman Tuhan itu jauh lebih besar dari segala dosa, kesalahan, kelemahan, keterbatasan dan ketidaklayakan kita. Kasih orang tua tidak mengharapkan balasan. Mereka hanya menginginkan anak-anak mereka bahagia. Demikian juga dengan Tuhan. Kerahiman Tuhan tidak bisa kita tukar dengan segala perbuatan baik kita. Kerahiman Tuhan itu cuma-cuma. Tuhan ingin kita bebas dari rasa salah, rasa ketidaklayakan, rasa berdosa supaya kita bebas menikmati hidup yang Tuhan telah berikan.
            Kadang kala kita berpikir bahwa kerahiman Tuhan itu ada batasnya. Jika kita tidak bertobat sebelum maut menjemput kita, nasib kita adalah neraka. Tetapi kita perlu percaya bahwa kerahiman Tuhan itu tidak bisa dibatasi termasuk kematian. Jangan sampai kita heran jika di surga nanti kita duduk berdampingan dengan tetangga kita yang berkelakuan buruk. Jangan sampai kita mengatakan kepadanya: “kamu juga ada di sini,” seolah-olah dia tidak mempunyai hak akan surga, hak untuk diampuni. Orang bisa saja akhirnya bertobat setelah sampai di hadapan Tuhan, karena Tuhan selalu melakukan segala macam cara supaya manusia mau menerima tawarannya yaitu hidup abadi bersama denganNya. Sampai-sampai Ia memberikan PutraNya sendiri sebagai pemulih atas dosa-dosa kita. Kalau itu tidak cukup, Ia melimpahkan Roh KudusNya yang akan membuat kita selalu merindukan kerahiman Tuhan itu dan berteriak memohon kepada Bapa yang sungguh maharahim. Jadi kerahiman Tuhan itu sungguh tidak terbatas, lebih dari yang bisa kita pikirkan.
Apa yang Tuhan inginkan dari kita? Tidak lain tidak bukan: “Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini.” atau lebih kerennya: “Kyrie eleison. Christe eleison.” Amin.


Masa Prapaskah Masa Bertobat
Masa Prapaskah sudah di ambang pintu. Pada hari Rabu 13 Februari 2013, dahi kita akan ditandai salib dengan abu dan mendengar imam mengatakan: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Masa Prapaskah adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertobat dan kembali kepada Injil. Dengan berbagai macam sarana yang disediakan oleh Gereja, kita diajak menanggapi tawaran Tuhan yang berbelaskasih dan pengampun itu.
Tobat dan Injil berkaitan satu sama lain. Injil artinya kabar sukacita. Isi dari Injil itu adalah keselamatan dari Tuhan yang terwujud dalam diri Yesus Kristus Putra-Nya. Ketika kita berbicara tentang keselamatan, kita akan menyinggung juga kerahiman Tuhan, belaskasih Tuhan. Kita selamat karena kita diampuni. Apa hubungan antara dosa, tobat, dan pengampunan Tuhan? Hubungan kita dengan Tuhan terganggu karena dosa. Hubungan ini hanya bisa diperbaiki jika kedua belah pihak terlibat. Kita percaya Tuhan itu sungguh pengampun. Karena Tuhan begitu menghargai kebebasan manusia, Ia tidak mau memaksakan pengampunan atau keselamatan. Ia hanya bisa menawarkan keselamatan kepada manusia. Dengan demikian kita manusia perlu bertobat supaya Tuhan bisa mengampuni kita. Tobat kita mengungkapkan keinginan kita untuk diampuni oleh Tuhan, kemauan kita untuk menerima tawaran keselamatan dari Tuhan. Tuhan sudah siap sedia mengampuni kita dan selalu menunggu kita mengatakan ya. Kita tinggal mengatakan ya, Tuhan melimpahkan segala yang kita butuhkan, lebih dari yang kita pikirkan.
Hanya satu hal yang perlu kita ingat bahwa Gereja Katolik itu mengimani Yesus Kristus Sang Putra yang menjadi manusia. Peristiwa di mana Tuhan menjadi manusia disebut inkarnasi. Konsekuensi dari inkarnasi ini bagi kita sungguh berat. Kemanusiaan kita amat berharga di hadapan Tuhan. Tubuh kita dengan indra dan perasaannya bukan hal yang sepeleh di mata Tuhan. Komunikasi kita dengan Tuhan harus melibatkan seluruh kemanusiaan kita termasuk tubuh kita. Dengan demikian tobat kita harus melibatkan tubuh kita.
Bagaimana kita mengungkapkan tobat dengan tubuh kita? Gereja Katolik memberikan beberapa sarana antara lain: doa, puasa-pantang, dan amal. Yang lebih utama lagi adalah mengakukan dosa kita dan menerima pengampunan dari Tuhan lewat Sakramen Tobat. Jadi masa pra-paskah adalah masa di mana kita secara nyata bertobat atas dosa-dosa kita dan juga secara nyata menerima pengampunan dari Tuhan lewat Sakramen Tobat (sering juga disebut Sakramen Pengakuan Dosa, Sakrament Rekonsiliasi, atau Sakramen Pengampunan Dosa). Sedangkan doa, puasa-pantang, dan amal membantu kita bertobat.
Secara konkrit, apa yang mesti kita lakukan selama masa pra-paskah ini?
1] Kita wajib berpuasa dan berpantang selama hari Rabu Abu (13 Februari 2013) dan Jumat Agung (29 Maret 2013). Berpuasa berarti mengurangi porsi makanan dan berpantang berarti tidak makan daging termasuk ikan. Setiap hari Jumat kita wajib berpantang, tidak makan daging sebagai kenangan akan kematian Yesus Kristus. Kita boleh berpuasa dan berpantang di luar hari yang ditentukan oleh Gereja. Tapi ingat pada hari Minggu, jangan berpuasa dan berpantang, karena hari Minggu selalu hari gembira akan kebangkitan Kristus.
2] Berdoa lebih sering dan lebih lama. Bagi yang berkeluarga, mengajar dan mengajak anak-anak berdoa bersama misalnya doa rosario. Bagi yang bujangan, mengapa tidak mendoakan satu mazmur setiap hari? Ikut Jalan Salib setiap hari Jumat. Bagi para suster, bruder dan imam, doakanlah IBADAT HARIAN (brevir) lebih setia dan semua waktu (ibadat bacaan, ibadat pagi dan sore, ibadat siang, dan ibadat malam).
3] Membaca Kitab Suci. Jika terlalu sibuk, baca Injil Yohanes satu bab satu hari. Kalau banyak waktu, bacalah kitab-kitab para nabi (Yeremia, Ratapan,Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi, dan Barikh), karena berisi ajakan untuk bertobat. Mulailah dengan kitab yang singkat. Ini membutuhkan 3-4 bab setiap hari.
4] Lakukan perbuatan amal: mengisi amplop APP (aksi puasa pembangunan) dari keuskupan.
5] Menerima Sakramen Tobat/Pengampunan.
Lakukanlah hal-hal yang kecil yang menyatakan tobat kita supaya pada hari Paska, hari kebangkitan Tuhan, kita sungguh menjadi manusia baru, bangkit bersama Kristus. Amin.
MENDOAKAN MEREKA YANG SUDAH MENINGGAL
Saya selalu mendoakan mereka yang saya cintai – orang tua, saudara-saudari, nenek-kakek, kemenakan, om-tante, sepupu, ipar dan anggota keluarga lainnya, para konfrater, teman-teman, donatur, pemimpin, pastor, karyawan ... – dan juga yang saya kenal baik. Demikian juga kalau mereka meninggal dunia. Saya percaya bahwa cinta itu melampaui kematian. Kematian itu tidak mempunyai kekuatan atas cinta saya kepada mereka yang sudah meninggal.
Mencintai orang yang sudah meninggal itu bagian dari hidup manusia. Kita tidak hanya mencintai orang yang masih hidup tetapi juga mereka yang sudah meninggal. Cinta kita tidak berhenti karena kematian. Buktinya adalah kita menguburkan mereka dengan baik, kita hadir pada saat penguburan mereka, kita menyimpan foto dan barang mereka sebagai kenangan akan mereka, kita membicarakan mereka dengan baik, kita mengingat ajaran dan petuah mereka, kita mengenang kebaikan mereka, kita menjalankan wasiat mereka, kita membersihkan kuburan mereka dan masih banyak lagi. Bukit yang lebih utama adalah mendoakan mereka supaya Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka. Jadi mendoakan mereka yang sudah meninggal adalah ungkapan cinta kita kepada mereka.
Gereja Katolik mengerti dan merangkul keinginan manusia untuk tetap mencintai sesamanya meskipun sudah meninggal. Ini hendak juga mengatakan bahwa cinta itu kekal.
Katekismus Katolik no 1032 mengajarkan bahwa kita Gereja Katolik mendoakan mereka yang sudah meninggal. Ini berdasarkan Kitab Suci: “Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya" (2 Mak 12:45). Lebih lanjut Katekismus no 1032 mengatakan bahwa “sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi [bdk DS 856] untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.”
Seorang Bapa Gereja mengatakan:
“Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya [bdk Ayub 1:5], bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka” (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).
Mungkin ada yang menyatakan bahwa mereka dilarang oleh agama atau sekte mereka seperti kaum Protestan untuk mendoakan orang meninggal, tetapi di hati lubuk atau dalam doa pribadi, mereka berharap supaya Tuhan menyelamatkan orang-orang yang mereka cintai yang telah meninggal dunia. Adalah kerinduan manusia untuk tetap mencinta dan kematian tidak mempunyai kuasa atas cinta itu. Berharap saja sudah merupakan doa. Orang-orang Katolik tidak perlu menyembunyikan harapannya di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan tahu apa yang ada di lubuk hati kita.
Lebih lanjut lagi, kita percaya bahwa Gereja itu tidak hanya menyangkut orang-orang yang hidup di dunia ini. Gereja itu terdiri atas orang hidup dan mati. Gereja sebagai Tubuh Kristus merangkul para kudus (gereja jaya), mereka yang masih menderita dalam api pencucian (gereja menderita) dan kita yang hidup di dunia ini (gereja pesiarah). Orang mati yang kita cintai tentunya tidak luput dari dosa sehingga mereka perlu dibersihkan. Mereka membutuhkan doa-doa kita supaya Tuhan berbelaskasih kepada mereka.
Memikirkan bapak, kakak atau teman yang sudah meninggal, bagaimana mungkin saya tidak akan berdoa bagi bapak saya yang telah meninggal yang telah memungkinkan saya lahir ke dalam dunia ini, yang telah membesarkan dan mendidik saya, yang telah memberi saya makan dan pakaian, yang telah mencintai saya? Bagaimana mungkin saya akan melupakan dalam doa saudara saya yang telah berbagi kegembiraan bersama saya? Bagaimana mungkin saya tidak akan berdoa bagi teman saya yang telah begitu baik kepada saya? Saya sungguh beruntung beragama Katolik, karena dalam Gereja Katolik-lah kerinduanku ini terungkap. Lebih lagi, saya tidak sendirian, saya bersama umat lainnya berdoa untuk mereka yang saya cintai.
Sesuatu yang sungguh indah dalam hidup setiap orang Katolik karena kita tidak sendirian mendoakan mereka yang kita cintai – baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal – tetapi bersama umat lainnya, dan lebih penting lagi bersama para kudus. Saya semakin mencintai Bunda Maria, karena saya percaya ia selalu mendoakan kita. Bukankah setiap kali kita mendoakan Salam Maria kita mengatakan: “Doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.”
Dalam perayaan Ekaristi, sesudah doa konsekrasi, imam atas nama Gereja melanjutkan doanya demikian: “Ingatlah akan saudara-saudari kami yang telah meninggal dunia dengan harapan akan bangkit kembali; terimalah mereka dan semua yang telah meninggal ke dalam kehadiran-Mu.” Setiap kali saya pimpin misa, pada saat mendoakan bagian ini, saya hening sejenak memikirkan bapak dan kakak saya. Kadang kala saya juga menambahkan orang lain.
Tidak hanya itu, setiap sore Gereja lewat para imam dan umatnya mendoakan mereka yang sudah meninggal. Dalam Ibadat Sore, saya selalu mendoakan anggota keluarga saya yang sudah meninggal. Dalam Ibadat Sore, komunitas mendoakan para anggota kongregasi kami yang sudah meninggal terutama yang hari meninggalnya jatuh pada saat itu.
Sebagai orang Katolik, kita percaya dan yakin akan keselamatan kita. Kita berada dalam Gereja yang membimbing kita ke jalan yang benar, kita mengakui Yesus Kristus yang adalah penyelamat satu-satunya dari Bapa kita di surga, dan kita menaati perintah Tuhan untuk mencintai sesama. Selain Gereja Katolik, tidak ada agama, gereja atau sekte yang bisa memberikan jaminan yang pasti. Yang lain itu hanya memberikan ‘kemungkinan’ bisa selamat.
Tuhanlah yang menyelamatkan. Tetapi keselamatan juga tergantung atas manusia. Kalau manusia menolak, Tuhan tidak memaksa. Kalau seseorang tidak mau masuk surga, lantas Tuhan memaksa dia masuk surga, ia tidak akan bahagia di sana. Tidak ada orang yang mau masuk neraka kecuali setan. Maka dari itu setan selalu berusaha supaya banyak orang masuk neraka. Bagaimana setan memperdaya manusia?
1)   Setan berusaha meyakinkan manusia bahwa Tuhan itu tidak ada atau meyakinkan manusia bahwa setan itu tidak ada.
2)   Setan berusaha meyakinkan manusia untuk meninggalkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya penyelamat.
3)   Karena setan tahu bahwa Gereja Katolik itu mengajarkan kebenaran, setan berusaha meyakinkan manusia bahwa tidak perlu menjadi umat Gereja Katolik untuk selamat.
4)   Setan berusaha meyakinkan manusia bahwa tidak ada gunanya mendoakan orang yang sudah meninggal, dengan demikian mereka yang meninggal tidak memperoleh belaskasih atau kerahiman dari Tuhan.
5)   Setan meyakinkan manusia bahwa kita bisa langsung memohon pengampunan kepada Tuhan tanpa lewat sakramen pengakuan dosa. Setan tahu manusia akan menyombongkan diri bahwa ia sudah diampuni tetapi siapa yang mengatakan bahwa ia sudah diampuni? Orang yang mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia sudah diampuni menipu dirinya sendiri. Ibarat orang yang melakukan kesalahan, lantas membayangkan dalam pikirannya bahwa ia sudah minta maaf dan dimaafkan.
6)   Setan meyakinkan manusia untuk mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk menjatuhkan orang lain bahkan melakukan kekerasan terhadap orang lain. Setan sendiri telah melakukannya terhadap Yesus. Itulah beberapa pekerjaan setan dan pengikut-pengikutnya.
Sebagai pastor, saya banyak kali dipanggil untuk merayakan misa bagi orang mati. Lewat pelayanan ini saya merenungkan banyak dan mendalam akan kematian dan janji-janji Tuhan kepada manusia. Keindahan dan kebenaran iman Gereja Katolik semakin nampak. Kerahiman Tuhan semakin terasa. Iman saya akan kebangkitan dikuatkan. Campur tangan Tuhan dalam hidup saya semakin nyata.
Setiap kali menyalakan lilin paskah, saya mengatakan: Saudara, terimalah lilin paskah ini yang melambangkan Kristus sebagai cahaya yang akan menuntun saudara kepada Bapa.
Setiap kali mendupai yang meninggal, saya berdoa: Tuhan semoga amal bakti saudara kami harum membumbung tinggi di hadapanmu seperti dupa ini.
Setiap kali memerciki yang meninggal dengan air suci, saya berdoa: Tuhan ingatlah saudara kami yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dengan baptisan, saudara kami telah mati bersama Kristus dan semoga kita ia bangkit bersama Kristus pula.
Sebelum perayaan Ekaristi, saya mengingatkan umat: Semoga saudara kita dibangkitan sama seperti Tubuh Kristus yang ia telah terima selama hidupnya. Kita pun berharap dibangkitkan bersama Kristus.

Perkawinan: ikut ambil bagian dalam karya Tuhan

Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, terutama kepada kedua mempelai beserta keluarga yang berbahagia.

Sebuah perkawinan bukan hanya urusan antara dua orang saja, bukan saja urusan dua keluarga besar, bahkan bukan saja urusan manusia, tetapi juga urusan Tuhan. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa Tuhan selalu menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Tuhan sudah memberikan tanda-tanda yang nyata yaitu sakramen-sakramen yang menyatakan bahwa Tuhan tetap hadir dan berperan dalam hidup kita, terutama di saat-saat yang penting. Mulai dari kelahiran sampai kepada kematian termasuk perkawinan, Tuhan hadir lewat pelayanan Gereja.

Hari ini hari yang istimewa meskipun mungkin sedikit menengangkan bagi kedua mempelai, hari ini tetaplah istimewa bagi mereka. Hari ini akan selalu dikenangkan di hari-hari yang akan datang entah itu sebagai berkat maupun awal dari kemalangan karena tiba-tiba menyadari salah seorang merasa salah pilih. Kita berdoa semoga hari ini menjadi sungguh berkat bagi mereka.

Istimewa karena kita mengamini apa yang kita percaya bahwa Allah yang adalah cinta dan telah menciptakan manusia untuk cinta, telah memanggilnya untuk mencinta. Dengan menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta di antara mereka dalam perkawinan. ‘Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu’ (Mat 19,6). Allah bersabda dan memberkati mereka, ‘Beranak-cuculah dan bertambah banyak’ (Kej 1,28).

Setiap kali Tuhan melakukan sesuatu bagi kita, Ia meninggalkan kepribadian-Nya di dalam hidup kita dan Ia memampukan kita untuk bertindak sesuai dengan kepribadian-Nya itu. Seorang pelukis, ketika ia melukis tentunya ia meninggalkan kepribadiannya sekurang-kurangnya tanda tangannya dalam lukisan itu. Jika kita memberikan lukisan kepada seorang pengamat lukisan, ia akan mengenal kepribadian dari pelukisnya bahkan bisa memberitahu siapa pelukis tersebut. Itu dikarenakan seorang pelukis tidak hanya melukis tetapi saat ia melukis ia meninggalkan kepribadiannya pada lukisannya itu. Ia tidak hanya meninggalkan satu lukisan tetapi juga kepribadiannya yang ada dalam lukisan itu.

Tuhan adalah cinta. Cinta adalah kepribadian Tuhan. Ia mencintai kita. Dan ketika Ia mencintai kita, Tuhan meninggalkan kepribadian-Nya sebagai cinta dalam diri kita. Ia juga menanamkan benih-benih cinta di dalam diri kita. Ketika kita mencintai satu sama lain, itu bukanlah semata-mata karena perintah Tuhan, tetapi karena Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengambil bagian dalam kepribadian-Nya yang mana Dia itu adalah cinta. Ini seharusnya menjadi suka cita bagi kita semua, terutama bagi kedua mempelai. Kalian saling mencintai, kalian akan mencintai anak-anak kalian, dan juga mereka yang ada di sekitar kalian; itu karena Tuhan meninggalkan benih cinta dalam kehidupan kalian ketika Tuhan mencintai kalian. Bukankah suatu kebahagiaan tersendiri ketika kita tahu bahwa Tuhan membuat kita layak mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri?

Demikian juga dengan kesetian suami istri satu sama lain. Allah yang adalah setia tentunya meninggalkan benih-benih kesetian di dalam diri kita. Suami-istri yang setia satu sama lain karena Allah telah menanamkan kepribadian-Nya dalam diri mereka.

Mudah-mudahan Sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini membuat kita semakin mantap menghadapi hari-hari yang penuh tantangan, tidak sebagai beban tetapi sebagai kesempatan ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi. Jika kita sudah mulai belajar ambil bagian dalam kehidupan itu, tentunya kehidupan ilahi itulah yang akan menjadi tujuan hidup kita.
Amin. Semoga.

BERTOBAT ITU TIDAK SUSAH

Mari kita membayangkan, kita merayakan misa pada malam hari dan tiba-tiba padam lampu, kita berada dalam kegelapan total. Kita bisa membayangkan ada yang berteriak ketakutan tetapi ada yang senang dan terutama mereka yang punya tangan usil meraba ke sana ke mari entah untuk sekedar ‘salah raba’ ataupun dengan maksud mendapatkan tambahan uang belanja, apalagi harga cabe semakin naik. Hal seperti ini bisa saja terjadi di rumah Tuhan. Itu membuktikan bahwa Tuhan menyambut siapa saja di rumahnya. Puji Tuhan untuk itu, namun tetaplah hati-hati dengan barang bawaan Anda.

Meskipun segelintir orang suka kegelapan, kita tetap merindukan terang atau cahaya. Terang atau cahaya membuat kita bisa melihat apa yang ada di sekitar kita. Dengan terang, kita akan melihat debu, sarang laba-laba dan kotoran lainnya yang ada dalam sebuah ruangan. Melihat keadaan seperti itu kita tentunya harus membersihkan kamar itu sehingga layak dihuni. Demikian juga dengan hidup kita. Yesus adalah terang bagi kita. Dengan mengikutiNya dari dekat lewat membaca, mendengar dan merenungkan apa yang Ia perbuat dan katakan dalam Injil, Yesus menjadi terang bagi hidup kita. Dengan Yesus, kita melihat ternyata ada bagian tertentu dalam hidup kita yang perlu kita perbaiki, benahi, atau sembuhkan. Kita melihat bahwa selain ada perbuatan-perbuatan yang perlu kita hentikan, ada pula perbuatan-perbuatan yang semestinya kita lakukan. Dengan demikian Yesus sebagai terang kita melihat perlunya ada perubahan dalam diri kita. Perubahan itulah yang disebut pertobatan.

Apakah terang hanya membuat kita melihat yang buruk saja? Tentunya tidak. Dengan terang, kita akan melihat pemandangan yang indah, senyuman yang bersahabat, hasil karya manusia yang mengagumkan dan lain sebagainya. Terang membuat kita melihat segala kebaikan dan keindahan yang ada di sekitar kita. Demikian juga dengan Yesus yang adalah terang bagi hidup kita. Dengan membaca, mendengar dan merenungkan hidup Yesus, sebagaimana yang tertulis dalam Injil, kita akan melihat segala kebaikan dan janji yang Tuhan telah berikan kepada kita. Yesus membuat kita melihat dan memahami bahwa Tuhan itu adalah Bapa kita yang selalu mencintai kita tanpa syarat apa pun, yang selalu setia kepada kita dan yang selalu mengampuni kita biarpun kita berulang kali jatuh dalam kesalahan dan dosa yang sama. Bukankah sesuatu yang indah dan luar biasa? Itulah kebaikan yang terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

Bapak, Ibu, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ketika kita menyadari dan semakin menyadari bahwa kita ini sungguh dicintai oleh Bapa kita di surga, kita juga akan semakin mudah semakin menjadi bagaian dari hidup untuk mencintai satu sama lain sebagai saudara dari satu Bapa.Dan ini juga adalah perubahan. Dan tentunya ini juga adalah pertobatan. Pertobatan semacam ini barangkat dari apa yang Tuhan telah lakukan kepada kita.

Mari kita memanjatkan syukur kepada Bapa kita di surga yang telah mengutus Putranya ke dalam dunia sebagai Terang yang membuat kita mampu melihat kebaikan-kebaikan dan janji-janji yang Bapa telah berikan kepada kita. Dengan menerima, mengakui, merenungkan dan mensyukuri segala kebaikan dan janji Tuhan itu, dengan sendirinya kita akan berubah dan menjadi manusia-manusia yang juga penuh dengan kebaikan dan harapan. Amin. Semoga.